Sabtu, 08 Januari 2011

Potret pendidikan Indonesia

Indonesia telah lama merdeka, lebih dari 60 tahun Indonesia Merdeka, tapi Indonesia kemerdekaan belum sepenuhnya tercapai, masih banyak masalah yang menimpa bangsa kita, mulai dari korupsi, kesejahteraan, dan masih banyak lagi. Kita sebagai penerus bangsa harus lah ikut serta dalam memajukan Indonesia menjadi lebih baik.
Pemuda sekarang banyak mengalami kemunduran, Mulai dari krisis identitas, daya kritis kurang, daya kreatif kurang, sering ikut ikutan, kurang mandiri dan sebagainya, hal itu menurut saya dikarenakan sistem Pendidikan sekarang yang kurang baik dan kurang tepat sasaran. Pengajaran biasanya hanya terjadi satu arah saja , antara guru ke murid, daya Partisipasi murid biasanya kurang, mereka mengalami kebosanan dan kejenuhan dalam belajar, bagaimana tidak, jika dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan SMA ,bahkan sampai dengan Perguruan tinggi , hal yang dipelajari mencakup hal yg sama, misalnya : dari SD Sampai SMA pasti ada Matematika, bahasa inggris, IPA, IPS , dan lain lain. Pelajaran pelajaran tersebut diberikan dalam bentuk teori teori barat dalam bentuk tulisan, bacaan, maupun penjelasan dari Guru tanpa diimbangi dengan praktek yang nyata, hal tersebut membuat kebosanan menghinggapi Pelajar,khususnya saya . Penjelasan penjelasan tarsebut hanya didengar dari telinga kanan dan kemudian keluar lagi dari telinga kiri (lupa). Evaluasi belajar pun hanya mengandalkan nilai nilai teori, hal itu memungkinkan pelajar hanya menghafal saja & pemahaman mereka kurang, sedangkan menurut teori yang ada, menghafal hanya dapat menyimpan memori ke dalam otak hanya sementara saja, artinya setelah evaluasi berakhir setelah beberapa hari/minggu, mereka akhirnya lupa akan pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya selama berbulan bulan, artinya pengajaran selama ini Sia sia. Hal ini tidak berlaku pada sebagian kecil pelajar yang memiliki kesadaran & tingkat pemahaman tinggi.
Selain hal hal tersebut, sistem pendidikan indonesia hanya ber acuan pada nilai saja, hasil bertahun tahun belajar hanya ditentukan dengan satu kali ujian akhir yang akan menentukan lulus tidaknya pelajar. Hal itu juga memicu adanya pemalasan pada diri pelajar ,” ah yang penting ujian lulus, ulangan harian ga’ penting” seperti inilah pikiran mereka., bahkan ada yang berpikir pesimis ” wah paling paling Nanti ga’ lulus kaya’ tetangga sebelah & ujiannya tambah susah dari tahun ke tahun, mending gua kerja aja, buat apa sekolah capek capek akhirnya ga lulus juga..” Mereka akhirnya memilih untuk bekerja membantu Orang tua mereka. Selain itu, dengan adanya Ujian Nasional, timbul pemikiran2 negatif yang merusak moral pelajar, Kejujuran mulai dipertanyakan, bahkan mereka terang terangan menyusun rencana untuk bekerja sama dalam mengerjakan Soal soal, ada yang mencontek, idealnya kan kerja sendiri sendiri, Nah inilah salah satu ketidak jujuran yang mengakar pada pikiran mereka, dampaknya sampai mereka jadi pemimpin ,banyak yang tidak jujur. Bahkan ada yang lebih parah, mereka rela mencuri soal & membeli kunci jawaban demi Status “LULUS..” Hal hal itulah penyebab kemunduran Pemuda generasi Bangsa.
Pendidikan kita yang selama ini berorientasi pada nilai menurut saya itu salah, pelajar dididik agar belajar demi satu ijazah. Seharusnya, pendidikan indonesia ini harus disesuaikan dengan tujuannya, kalau tujuannya jelas maka belajar nya pun jelas. Sistem penjurusan pun harus dilakukan sejak dini ( SD / SMP) dengan demikian maka lulusan SMP pun sudah bisa mandiri. Hal yang paling utama adalah, orientasi nya jangan hanya terpaku pada nilai/ angka angka, yang penting itu pemahaman nya. Selain itu juga , teori yang selama ini menjadi makanan pokok, seharusnya di Imbangi dengan praktek yang lebih banyak, minimal sama frekuensi nya dengan teori atau lebih banyak praktek nya. Jika di lihat dari sejarah, orang orang pintar dunia itu kebanyakan banyak praktek nya dari pada teori contohnya: albert einstein saja tidak lulus sekolahnya. Dia belajar sendiri dengan uji coba dan praktek.
Ujian nasional juga harus di hilangkan, mungkin lebih baik jika siswa bisa dinyatakan lulus jika bisa melakukan penemuan2 baru / bisa mempraktekkan yang telah di pelajarinya. Selain itu juga diperlukan pendidikan moral & religius yang banyak bagi pelajar, misalnya: bagi yang muslim, wajib bisa membaca alquran, & sholat 5 waktu harus full, mungkin ada test khusus saat kelulusan ( tes baca Alquran,dll )
Mungkin itulah sedikit ulasan mengenai potret pendidikan di Indonesia menurut pemikiran saya, Bagaimana dengan kawan kawan..?

Kamis, 06 Januari 2011

Pengantar Ilmu Administrasi

Administrasi Pembangunan timbul karena adanya tuntutan dan kebutuhan bagi negara-negara yang sedang berkembang, yang berusaha mengatasi masalah-masalah keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Hal ini disebabkan oleh prinsip-prinsip dan teori-teori dari Administrasi Negara yang tradisional, yang dikembangkan di negara-negara Barat, terutama di negara Amerika Serikat dirasakan tidak sesuai lagi negara-negara yang sedang berkembang. Oleh karena itu Administrasi Pembangunan adalah Administrasi Negara yang berorientasi terhadap pembangunan. Di samping itu Administrasi Pembangunan juga masih mendasarkan diri atas prinsip-prinsip dan analisis Administrasi Negara. Beberapa pendapat dan definisi Administrasi Pembangunan telah dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai bahan perbandingan dan untuk memperluas wawasan. Selanjutnya dikemukakan perbedaan antara Administrasi Negara dan Administrasi Pembangunan untuk lebih memperjelas batas-batas dan ruang lingkupnya.
Pengelompokan Ilmu adminisrasi
Pengelompokan Ilmu Administrasi terdiri atas (a) pengelompokan yang bersifat administrasi umum, (b) pengelompokan di bidang pembangunan, (c) pengelompokan yang bersifat sektoral, dan (d) pengelompokan atas dasar Pelayanan administratif (administrative services). Pengelompokan yang terakhir yaitu pelayanan administratif dilakukan oleh satuan kerja yang disebut dengan Kantor (Perkantoran) atau Manajemen Kantor (Perkantoran). Administrasi Perkantoran bertugas membantu pelaksanaan tugas pokok/tujuan Organisasi/Badan Usaha. Administrasi Kantor/Perkantoran biasanya disebut “Sekretariat” atau “Tata Usaha” yang bertugas melakukan pelayanan administratif, berupa urusan: Kerumahtanggaan, Ketatausahaan, Kepegawaian, Keuangan, dan sebagainya yang bersifat pelayanan intern (internal services).

PERKEMBANGAN ILMU ADMINISTRASI DI INDONESIA
Ilmu Administrasi pada Waktu Pemerintahan Hindia Belanda dan Pengaruh Administrasi Militer
• Penggunaan istilah administrasi di bidang pemerintahan pada pemerintahan Hindia Belanda.
• Pembagian wilayah administrasi.
• Lembaga-lembaga pemerintah Hindia Belanda.
• Susunan organisasi pemerintah Hindia Belanda.
• Daerah-daerah Otonom
• Istilah administrasi di bidang hukum dan di bidang perekonomian.
• Pengaruh Administrasi Militair pada waktu Perang Dunia II.
Perkembangan Administrasi sesudah Kemerdekaan
Praktik-praktik administrasi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda, baik di bidang Pemerintahan, Hukum dan Perekonomian. Namun praktik-praktik administrasi tersebut, dimonopoli oleh orang-orang Belanda. Sehingga ilmu Administrasi kenyataannya menjadi milik bangsa penjajah. Orang-orang Indonesia hanya sekedar sebagai pelaksana saja. Mereka pada umumnya hanya memiliki pangkat sebagai Mandor/Krani, Juru Tulis (Klerk), sehingga mereka hanya mengenal arti administrasi dalam arti sempit.
Pengaruh keberhasilan Administrasi Militer pada Perang Dunia II, menyebabkan bangsa-bangsa di dunia banyak mempelajari ilmu administrasi.
Menyadari atas kekurangannya di bidang administrasi, pemerintah Indonesia mendatangkan Misi Ahli dari Amerika Serikat untuk memperbaiki kekurangan tersebut.
Akhirnya Misi Ahli memberikan rekomendasinya, yaitu: Perlunya “Pendidikan dan Latihan Administrasi di Indonesia” (Training for Administration in Indonesia)

Jumat, 31 Desember 2010

Selasa, 28 Desember 2010

ilmu administrasi bisnis adalah ilmu yang berhubungan dengan pengelolaan perusahaan, antara lain manajemen umum, manajemen produksi, manajemen keuangan (termasuk akuntansi), manajemen sdm (sumber daya manusia), manajemen pemasaran.
Fungsi-fungsi manajemen tersebut adalah uniersal, yang artinya sama dimana saja,dalam seluruh organisasi dan pada waktu kapan saja, 
Alasan mengapa dibutuhkan manajemen:
1. untuk mencapai tujuan, manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi atau probadi.
2. untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan, manajemen dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan,sasaran-sasaran dan kegiatan yang saling bertentangan dari pihak yang berkepentingan dalam organisasi sebuah perusahaan.
3. untuk mencapai efisiensi dan efektifitas , suatu kerja organisasi dapat diukur dengan banyak cara yang berbeda.

Sabtu, 25 Desember 2010

Hari ini

Dimulai dari diri sendiri,,baru orang lain... pengalaman yang berharga adalah kesalahan dari hidup. Dari situ kita dapat memetik pengalaman hidup agar tidak terulang untuk kedua kalinya. Hidup adalah masalah, masalah itu dari kita sendiri,dan hanya diri kita sendiri yang bisa menyelesaikannya,,,sepahit atau sesedih apapun masalah yang kita alami kita harus bersabar, karena walaupun kita tidak bersabar,,toh masalah tetap  menyakitkan. 
Satu haL yang akku sesali,,aku tidak bisa melihat kesempatan itu datang...

Rabu, 22 Desember 2010

DAMPAK PEMBALAKAN LIAR

Data yang dikeluarkan Bank Dunia menunjukkan bahwa sejak tahun 1985-1997 Indonesia telah kehilangan hutan sekitar 1,5 juta hektare setiap tahun dan diperkirakan sekitar 20 juta hutan produksi yang tersisa. Penebangan liar berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan kayu di pasar internasional, besarnya kapasitas terpasang industri kayu dalam negeri, konsumsi lokal, lemahnya penegakan hukum, dan pemutihan kayu yang terjadi di luar kawasan tebangan.
Berdasarkan hasil analisis FWI dan GFW dalam kurun waktu 50 tahun, luas tutupan hutan Indonesia mengalami penurunan sekitar 40% dari total tutupan hutan di seluruh Indonesia. Dan sebagian besar, kerusakan hutan (deforestasi) di Indonesia akibat dari sistem politik dan ekonomi yang menganggap sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan dan bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik serta keuntungan pribadi.
Menurut data Departemen Kehutanan tahun 2006, luas hutan yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektare kawasan hutan di Indonesia, dengan laju deforestasi dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektare per tahun. Bila keadaan seperti ini dipertahankan, dimana Sumatera dan Kalimantan sudah kehilangan hutannya, maka hutan di Sulawesi dan Papua akan mengalami hal yang sama. Menurut analisis World Bank, hutan di Sulawesi diperkirakan akan hilang tahun 2010.
Praktek pembalakan liar dan eksploitasi hutan yang tidak mengindahkan kelestarian, mengakibatkan kehancuran sumber daya hutan yang tidak ternilai harganya, kehancuran kehidupan masyarakat dan kehilangan kayu senilai US$ 5 milyar, diantaranya berupa pendapatan negara kurang lebih US$1.4 milyar setiap tahun. Kerugian tersebut belum menghitung hilangnya nilai keanekaragaman hayati serta jasa-jasa lingkungan yang dapat dihasilkan dari sumber daya hutan.
Penelitian Greenpeace mencatat tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai angka 3,8 juta hektare pertahun, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas illegal logging atau penebangan liar (Johnston, 2004). Sedangkan data Badan Penelitian Departemen Kehutanan menunjukan angka Rp. 83 milyar perhari sebagai kerugian finansial akibat penebangan liar (Antara, 2004).

Senin, 20 Desember 2010

POTRET KEMISKINAN DI INDONESIA

“Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, kemiskinan masih akan jadi masalah utama bangsa Indonesia, dilihat dari segi konsumsi maupun pendapatan.” ujar Dr. Sri Adiningsih, MSc., ekonom dari Universitas Gajah Mada, salah satu narasumber di Konsultasi Nasional yang diadakan oleh Institut Leimena bersama dengan Persatuan Gereja-gereja Indonesia, Persatuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia, serta Persatuan Gereja Pentakosta Indonesia, September 2008 lalu.
Dr. Sri Adiningsih menampilkan potret ekonomi Indonesia sebagai berikut:
 Stabilitas ekonomi makro tetap terjaga, namun rapuh, apalagi pasar keuangan global tengah menghadapi krisis. Pertumbuhan ekonomi meningkat, terutama karena kenaikan harga barang primer dan sektor non-tradable. Kebijakan ekonomi terlalu liberal karena semakin bergantung ke luar negeri. Anggaran terjebak kebijakan jangka pendek, tampak populis, tapi pembangunan strategis seperti jembatan, jalanan, atau listrik tidak dilakukan.
Sementara itu, kemiskinan di Indonesia masih besar. Padahal definisi “kemiskinan” yang dipakai sudah sangat lunak dibandingkan, misalnya, dengan standar Bank Dunia. Belum lagi penambahan BLT (Bantuan Langsung Tunai) dan Raskin (Bantuan Beras bagi Rakyat Miskin) dapat menurunkan angka kemiskinan secara semu. Dari banyak penelitian, sumber kemiskinan antara lain adalah kualitas Sumber Daya Manusia yang rendah, infrastruktur yang buruk, dan ketiadaan modal.
 Pilar ekonomi Indonesia saat ini sebetulnya UKM. Di sinilah banyak orang miskinnya. Namun usaha mikro sekarang berkembang bukan akibat desain pemerintah, tapi karena orang tidak ada pilihan. Daripada menganggur, lebih baik membuka Warteg atau sejenisnya. Usaha kecil di Indonesia naik dari 44 juta (2007) menjadi hampir 50 juta (2008). Usaha menengah turun dari 6 juta ke sekitar 4 juta, sedangkan usaha besar umumnya stagnan.
Menurut UN Millenium Project, pertanian adalah cara mengatasi kemiskinan di desa. Selain itu perlu mengembangkan investasi dalam bidang kesehatan dasar, pendidikan, transportasi, listrik, serta pelayanan masyarakat.
Dalam konteks ini, gereja harus menjadi pilar penting dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan. Gereja harus memberikan pencerahan, semangat, optimisme. “Walaupun kecil, kita jangan mengalami minority syndrome. Gereja-gereja di Indonesia punya jaringan nasional dan berbagai program pengentasan kemiskinan, meskipun hasilnya memang masih jauh dari memuaskan.” papar Dr. Sri Adiningsih. Ia pun menceritakan pengalamannya menjadi pembina program sosial di gerejanya. “Motto kami adalah melayani dulu, urusan uang kemudian, jadi bukannya bertanya dulu apakah punya uang atau tidak.”
 “Ini adalah pekerjaan besar, tapi saya percaya kita akan bisa melakukannya dengan cara dan kemampuan kita masing-masing.” kata Dr. Sri Adiningsih dengan optimis.**