Senin, 17 Januari 2011

Resume

A.Sasaran pasar ( target market )

Mendapatkan target pasar yang menarik merupakan bagian yang utama bagi bisnisman. Sasaran pasar yang yang cukup menarik akan merupakan kesempatan pasar / market opportunity. Kesempatan dari perusahaan merupakan sasaran yang dapat dijangkau oleh faktor-faktor / sarana yang dimiliki oleh perusahaan. Faktor- faktor tersebut adalah faktor penentu pembelian , adapun faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi :

1. Faktor pribadi ( intern )
2. Faktor kelompok
3. Faktor lingkungan sosial
4. Faktor budaya

Alasan seseorang membeli barang tertentu karena pengaruh faktor intern ( pribadi ) serta ekster ( lingkungan ). Dengan mengenal faktor-faktor penentu bembelian tersebut maka kita dapat mengetehui bahwa pasar yang kita hadapi itu berbeda-beda ( heterogan ).

Pengusaha dapat melakukan differentiated marketing yaitu dangan cara pengusaha memberikan perlakuan , penyajian , penyampaian dan pelayanan ( marketing mix ) yang berbede-beda terhadap segmen pasar yang berbeda. Cara ini yang dapat menjamin perusahaan dapat memperoleh posisi persaingan yang lebih baik ( competitive advantege ).

B.Pembeda pasar

Kedua akan dibahas tentang pembeda pasar , pengusaha yang tidak atau belum membedakan pasar itu pada umumnya disebabkan karena 2 hal yaitu :

1. Dasar orientasinya masih pada orientasi produksi. Dengan mengenal adanya kesempatan pasar tersebut maka kita akan memperoleh 2 keuntungan yaitu :
a. Mengetahui adanya kesempatan pasar yang terbuka yaitu jenis kebutuhan lain yang belum terpenuhi yang dimiliki oleh segmen pasar tertentu.
b. Mengarahkan kegiatan pada segmen pasar tertentu yang lebih dapat dikuasai oleh kekuatab dan kelemahan perusahaan.

2. Pengusaha sebenarnya tahu akan adanya perbedaan pasar karena keterbatasan sarana mereka belum / tidak melakukan pelayanan yang berbeda.

Agar dapat lebih berkembang pengusaha harus melihat pasar , tidak hanya melihat produknya saja ( pasar produk ) tapi juga melihat kebutuhan pangkalnya( pasar kebutuhan pangkal , generic need , generic market ).

Adapun pengertian dari pasar produk adalah pasar yang bertumpu pada suatu produk saja. Contohnya :

- Mainan anak-anak
- Alat tulis
- Pakaian
- Batik
- Kerajinan
- Bahan bangunan
- Percetakan dll

Cara lain dalam rangka mencari kesempatan pasar / potensi pasar yaitu :

a. Kombinasi pasar-produk
b. Generic produk- generic market / need
c. Kebocoran pasar
d. Segmentasi pasar

C.Strategi pemasaran

Ada 3 jenis strategi dalam pemasaran yaitu :

1. Strategi satu sasaran ( single target )
Dalam hal ini pengusaha memilih satu segmen yang paling potensial , yang kemudian dijadikan target atau sasaran. Contohnya : indomart , toko batik.

2. Strategi sasaran ganda ( multy targets )
Disini pengusaha punya dua segmen bahkan lebih untuk pelayanan yang berbeda / juga disebut diferentiated marketing. Contohnya : perusahaan air dan kue , pewangi dan sabun cuci.

3. Strategi kombinasi sasaran ( combine targets )
Pengusaha yang melakukan strategi ini harus berhati-hati kerena semakin luas kombinasi akan semakin tidak homogen pasar yang dihadapi sehingga strategi yang dilaksanakan kurang efektif. Contohnya : unilever , indofood , wings.

Masing-masing strategi memiliki kelemahan dan kelebihan sendiri-sendiri adapun untuk mangantisipasi kekurangan dan kelebihan tersebut tergantung 2 hal yaitu :

a. Jngkauan sarana produksi yang dimiliki perusahaan
Semakin besar jangkauan sarana yang dimilikinya akan semakin mampu perusahaan untuk melakukan segmentasi pasar ( differentiated marketing ).

b. Tingkat kesamaan dari masing-masing segmen pasar
Semakin besar tingkat kesamaan yang terkandung pada masing-masing segmen akan menjamin keberhasilan dari segmentasi pasar (differentiated marketing ).



D.Dasar segmentasi pasar

Adapun dimensi yang dapat dipakai sebagai dasar segmentasi pasar adala sebagai berikut :

1. Geografis
a. Daerah : yogya , solo , semarang , dll.
b. Daerah administrasi : kota , desa , pinggiran kota , dll.

2. Demografis
a. Umur
b. Jenis kelamin
c. Jumlah anggota keluarga
d. Siklus kehidupan keluarga
e. Penghasilan
f. Pekerjaan
g. Pendidikan
h. Agama
i. Keturunan

3. Gaya hidup ( life style )
a. Modern
b. Tradisional
c. Kuno
d. Profesional

4. Status sosial
a. Pemimpin masyarakat
b. Pendidik
c. Golongan sosial menengah , tinggi , rendah dll.

5. Manfaat yang didambakan ( benefit sought )
a. Pelenyap sakit kepala
b. Pemutih gigi
c. Pelindung gusi
d. Pelemas rambut
e. Pewangi ruangan dll.

6. Pola konsumsi
a. Pecandu / penggemar
b. Pemborong





E.Kewirausahaan atau enterprenuership

Wirausahawan atau entreprenuer adalah suatu sikap mental yang berani menanggung resiko , berpikiran maju berani berdiri diatas kaki sendiri. Beberapa ciri enterprenuership atau jiwa kewirausahaan dikemukakan oleh J.A.Schumpeter ( 1970 ) dalam bukunya yang berjudul “ The Enterprenuer as Innovator ” mengemukakan beberapa ciri antara lain adalah sebagai berikut :

- Berambisi tinggi
- Energetic
- Bernafsu
- Percaya diri
- Kreatif dan inovatif
- Pandai bergaul
- Bersifat flexible
- Hard working
- Berpandangan ke depan
- Banyak inisiatif dan bertanggung jawab
- Bersikap optimis
- Selalu berorientasi laba

POTENSI BISNIS

Adapun cara mengidentifikasikan potensi bisnis dan kewirausahaan adalah dengan melakukan analisa terhadap potensi bisnis yang disebut analisa pasar.
Dalam prosesnya analisa pasar terdapat unsur pengusaha ( produsen) dan masyarakat ( konsumen ) yang masing- masing saling berhubungan dan terjadi siklus.

Pengusaha → analisa pasar ← masyarakat

Setelah kita membahas tentang analisa pasar, kita juga harus tau tentang definisi dari pasar itu sendiri. Dulu definisi dari pasar adalah proses interaksi antara penjual dan pembeli ataupun produsen dan konsumen.

Sedangkan pengertian dari interaksi adalah proses terjadi permintaan dan penawaran sehingga terjadi harga pasar atau kesepakatan.

Pemasaran adalah suatu sistem dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan , menentukan harga , mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan , baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.

Pengertian pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas , mempunyai uang untuk belanja dan mempunyai kemauan untuk membelanjakanya.

Dari pengertian tersebut ada 3 faktor yang menunjang, yaitu :

Orang dengan segala keinginanya
Daya beli mereka
Kemauan untuk membelanjakan uangnya



Pengertian pasar dilihat dari segi bisnis ada 2, yaitu :

Sekumpulan orang / organisasi yang mempunyai kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda.
Orang-orang tersebut mempunyai kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan transaksi jual beli baik sebagai penjual maupun pembeli.

Tujuan daripada identifikasi pasar adalah :

 Menentukan pasar apa yang sedang / akan dilayaninya.
 Menentukan dimana lokasi tempat tinggal dari orang / organisasi yang membutuhkan produk yang dipasarkan .
 Seberapa kas jumlah potensi pasar serta estimasi pasar yang dilayaninya.
 Menentukan sifat-sifat dan karakteristik dari pasar

Pengelompokan sifat-sifat pasar dibedakan menjadi 2 yaitu :

oPasar yang heterogan ( segmentasi pasar ) yaitu pasar yang tedapat bermacam- macam penjual, dalam satu pasar tidak hanya menjual satu produk tapi banyak dan bermacam-macam produk.
oPasar yang homogen ( sel pasar ) yaitu bagian dari pasar heterogan , pasar yang hanya menjual satu jenis produk saja.

Apabila ingin mendapat hasil pemasaran yang memuaskan kita harus mengetahui potensi dari pasar yaitu fungsi dari struktur :

•Penduduk ( population patern)
Apakah dalam daerah tempat pasar tersebut srategis dan banyak hunian penduduknya.
•Kemampuan membeli ( purchasing power)
Apakah orang- orang yang ada disekitar pasar tersebut mempunyai daya beli yang potensial.

•Pola konsumen ( consumtion patern)
Bagaimana kita harus bisa menyikapi perbedaan pola konsumen yang satu dengan yang lain harus sudah terencana.

Jadi potensi pasar jika digambarkan mempunyai hubungan melinkar yaitu potensi pasar yang dikelilingi oleh daya beli , pola konsumen dan struktur penduduk.

Potensi penjualan dapat dirumuskan :

P = m – s

Adapun potensi penjual yang harus diterapakan adalah :

 Penjual harus bisa membuat pembeli percaya
 Penjual harus cepat mengobati kekecewaan pembeli
 Penjual harus mengantisipasi agar pembeli yang kecewa tidak memberitahukan ke penjual yang lain
 Penjual harus mencari pelanggan yang sebanyak-banyakya

10 DEFINISI PERUSAHAAN DAN BISNIS

Definisi Bisnis Menurut Para Ahli
Friday, December 18th, 2009 at 19:00
Bisnis adalah usaha perdagangan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisasi untuk mendapatkan laba dengan memproduksi dan menjual barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti "sibuk" dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.
MUJAINI @ 12:32 am

Bisnis adalah suatu aktivitas yang mengarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui proses penyerahan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (produksi).

Secara etimologi, bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan.
Glos, Steade dan Lowry (1996)
Bisnis adalah jumlah seluruh kegiatan yang diorganisir oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang perniagaan dan industry yang menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan mempertahankan dan memperbaiki standard serta kualitas hidup mereka.
Musselman dan Jackson (1992)
Bisnis adalah kegiatan usaha yang terorganisasi untuk menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dan bertujuan menghasilkan profit (laba), yang kemudian laba tersebut digunakan untuk usaha meningkatkan laba atau perusahaan yang lebih besar lagi.



Definisi Perusahaan
Author: Rakyat Jelata | Posted at: 22:18 | Filed Under: artikel

Perusahaan adalah badan usaha berbentuk badan hukum atau tidak berbadan hukum yang menjalankan perdagangan barang atau jasa atau haki dengan tujuan mendapatkan keuntungan dalam jangka waktu tertentu dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut pemerintah Belanda, yang pada waktu membacakan “memorie van toelichting” rencana undang-undang “Wetboek van Koophandle” di muka Parlemen, menerangkan bahwa yang disebut “perusahaan” ialah keseluruhan perbuatan, yang dilakukan secara tidak terputus-putus, dengan terang-terangan, dalam kedudukan tertentu dan untuk mencari laba (bagi diri sendiri);
Menurut Prof. Molengraff, perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, bertindak keluar, untuk mendapatkan penghasilan, dengan cara memperniagakan barang-barang, menyerahkan barang-barang, atau mengadakan perjanjian-perjanjian perdagangan. Di sini Molengraff memandang perusahaan dari sudut “ekonomi”;
Menurut Polak, baru ada perusahaan, bila diperlukan adanya perhitungan-perhitungan tentang laba-rugi yang dapat diperkirakan, dan segala sesuatu itu dicatat dalam pembukuan. Di sini Polak memandang perusahaan dari sudut “komersiil”. Sudut pandang ini adalah sama dengan Molengraff, tetapi unsur pengertian perusahaan adalah lain. Pengertian perusahaan menurut molengraff mempunyai enam unsur, sedangkan menurut Polak cukup dua unsur.
Posted by admin
Pengertian atau definisi Perusahaan ialah suatu tempat untuk melakukan kegiatan proses produksi barang atau jasa. Hal ini disebabkan karena ‘ kebutuhan ‘ manusia tidak bisa digunakan secara langsung dan harus melewati sebuah ‘ proses ‘ di suatu tempat, sehingga inti dari perusahaan ialah ‘ tempat melakukan proses ‘ sampai bisa langsung digunakan oleh manusia

PEMAHAMAN MAKNA DAN KONSEP MANAJEMEN

Menurut james A.F.Stoner

Manajemen adalah proses perencanaan , pengorganisasian , pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Manajemen → - Perencanaan → Anggota organisasi (bawahan)
- Pengorganisasian
- Penyusunan ↓
- Pengarahan
- Pengawasan Tujuan organisasi

Pengertian manajemen secara luas akan dijelaskan dalam topik :

1. Manajemen sebagai ilmu dan seni
2. Manajemen sebagai profesi
3. Pengertian-pengertian yang berbeda dengan istilah manajemen
4. Aplikasi-aplikasi yang berbedadari istilah manajemen

Apakah manajemen ?

1. Manajemen adalah usaha untuk menciptakan masa depan yang lebih baik dangan mengingat masa lalu.
2. Manajemen dipraktekan di dalam dan refleksi dari era sejarah tertentu.
3. Manajemen adalah kegiatan menghasilkan konsekuensi dan pengaruh yang muncul dengan berlakunya waktu.

Tanpa manajemen yang efektif dapat dimungkinkan suatu organisasi akan gagal , maka dari itu diperlukan kecakapan dalam segala hal agar suatu oganisasi dapat mencapai suatu tujuan.












2. HAKIKAT
DAN PENTINGNYA MANAJEMEN



Mengapa manajemen penting ?

1. Untuk mencapai tujuan , baik pribadi maupun organisasi
2. Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan
3. Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas
- Efisiensi : kemampuan menyeesaikan pekerjaan dengan benar
- Efektivitas : kemampuan memilih tujuan yang tepat

Manajemen bukan hanya orang yang memberi tugas tetapi juga orang yang melaksanakan tugas.

Manajemen harus berketrampilan , konseptual , manusiawi dan teknis.

Dalam proses manajemen juga melakukan fungsi manajemen jadi proses manajemen hampir disamakan dengan fungsi manajemen.

Fungsi manajemen adalah untuk menempatkan suatu pada tempatnya.

Tanpa manajemen yang efektif dapat dimungkinkan suatu organisasi akan gagal. Manajemen akan dibutuhkan dimanapun , kapanpun , dan dalam keadaan apapun.

Sekecil – kecilnya suatu pekerjaan pasti didalamnya ada proses manajemen. Tanpa manajemen yang baik pasti suatu pekerjaan banyak mendapati kendala dan pencapaian tujuan akan sulit dipenuhi.

Manusia akan hidup lebih baik dan bermakna apabila dalam hidupnya mau memahami hakikat dan pentingnya manajemen serta melakukan proses manajemen dengan baik .













4. MANAJEMEN DAN MANAJER
SERTA LINGKUNGANNYA

Manajemen bukan hanya orang yang memberi tugas tetapi juga orang yang melaksanakan tugas.

Manajemen harus berketrampilan , konseptual , manusiawi dan teknis.

Semua tingkatan manajemen melakukan proses manajemen , yang terbagi menjadi 3 yaitu :

- Bawah : harus pandai menguasai teknis
- Tengah : harus pandai berinteraksi , berkomunikasi dengan anggota
tingkat bawah
- Atas : harus pandai menguasai konsep

Dalam proses manajemen juga melakukan fungsi manajemen jadi proses manajemen hampir disamakan dengan fungsi manajemen.
Fungsi manajemen adalah untuk menempatkan suatu pada tempatnya.
Manajer adalah setiap orang yang mempunyai tanggung jawab atas bawahannya / organisasi maupun perseorangan.

Tingkatan manajer :

1. Manajer lini pertama ( tingkatan paling bawah )
Manajer yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan karyawan operasional saja dan tidak membawahkan manajer lain.
2. Manajer menengah
Bertanggung jawab atas manajer lain , kadang terhadap beberapa karyawan operasional. Mereka juga bertanggung jawab terhadap manajer yang lebih senior.
3. Manajer puncak
Bertanggung jawab terhadap seluruh manajemen dari organisasi , mereka menetapkan kebijakan operasional dan pedoman interaksi organisasi dengan lingkungannya.

Tugas – tugas manajer :

1. Bekerja dengan dan melalui orang lain
2. Memadukan dan menyeimbangkan tujuan yang saling bertentangan
3. Bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan
4. Berfikir secara analisis dan konseptual
5. Seorang mediator , politisi , dan diplomat
6. Mengambil keputusan – keputusan yang sulit

Maka itu seorang manajer sangat berperan dalam terciptanya suatu tujuan
yang diinginkan dalam lingkungannya.
4. BEBERAPA PENDEKATAN
DALAM STUDY MANAJEMEN

A. Pendekatan sistem

Pendekatan sistem : pandangan bahwa organisasi sebagai sistem yang dipersatukan dan diarahkan dari bagian – bagian yang saling berkaitan.
Ketergantungan antar subsistem ( bagian yang menyusun seluruh sistem ). Sistem dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Sistem terbuka : sebuah sistem yang berinteraksi dengan lingkungannya.
2. Sistem tertutup : sebuah sistem yang tidak berinteraksi dangan lingkungannya.
Dari pembagian sistem ini dapat disimpulkan bahwa pendekatan sistem juga melihat pengaruh lingkungan.
Model sistem :
→ Input ←
Feed back → Proses transformasi ← Interaksi dengan lingkungan
→ Output ←
- Input organisasi : dari lingkungan , contoh : bahan mentah , manusia dan modal
- Proses transformasi : kegiatan dalam organisasi , contoh : sistem produksi
- Output : ke lingkungan , contoh : produk , keuntungan
- Feed back ( umpan balik ) : bagian dari sistem pengendalian yang mengembalikan hsil tindakan kepada individu yang bersangkutan , sehingga prosedur kerja dapat dianalisis dan dikoreksi

B. Pendekatan situasional / kontingensi

Pandangan bahwa teknik manajemen yang paling baik memberikan kontribusi untuk pencapaian sasaran organisasi mungkin bervariasi dalam situasi dan lingkungan yang berbeda.
Pendekatan situasional :
- Melihat situasi yang dihadapi
- Bertindak atas dasar situasi yang dihadapi

C. Pendekatan klasik
- Fokus pada efesiensi dan produktifitas

D. Pendekayan perilaku
- Fokus pada perilaku organisasi dan pentingnya sumber daya manusia

E. Pendekatan kuantitatif
- Fokus pada pendekatan kuantitatif manajemen opersi dan manajemen sains
5. PEMAHAMAN DALAM PRAKTEK – PRAKTEK TEORI MANAJEMEN DAN TANTANGANNYA


Secara singkat teori manajemen bisa membantu menunjukan praktek manajemen. Teori manajemen yang baik dapat mendorong profesionalisme manajemen.
Teori dapat digunakan untuk memprediksi kaitan antara beberapa fenoma , dengan itu diharapkan mengurangi praktek coba – coba dan dapat mengefisiensikan kerja manajer.

1. Teori manajemen kuno
Dipraktekan oleh masyarakat kuno , contoh : bangsa mesir membuat piramida. Tantangannya : seiring dengan perkembangannya , input masuk dalam jumlah besar sehingga proses produksi harus dilakukan dengan cepat
2. Teori manajemen klasik
Dalam teori ini dibedakan menjadi 2 :
a. Teori manajemen ilmiah : muncul sebagian dari kebutuhan untuk meningkatkan produktifitas. Dalam teori ini dibuat sistem pembayaran lebih tinggi kepada pekerja yang lebih efisien.
Tantanganya : muncul pekerja – pekerja yang takut diberhentikan dan pemogokan kerja.
b. Teori organisasi klasik : untuk mengenali prinsip – prinsip dan
ketrampilan yang mendasari manajemen yang efektif, dan memfokuskan pada kebutuhan mensistematisasi cara – cara pengelolaan organisasi yang kompleks.
Tantangannya : dalam teori ini validitasnya masih dipertanyakan , sulit untuk berubah , sehingga teori ini hanya tepat untuk lingkungan yang stabil.
3. Aliran perilaku
- Pendekatan hubungan manusiawi
Tantangannya : hubungan manusia belum mampu melakukan prediksi perilaku manusia dengan akurat
- Aliran perilaku
Tantangannya : rekomendasi mereka sering berbeda antara satu ahli dengan ahli yang lainnya , sehingga manajer kesulitan menentukan pendapat mana yang paling baik.
4. Teori manajemen kontemporer
- Pendekatan sistem
- Pendekatan situasional
Tantanggannya : banyak kritikan karena pendekatan ini tidak menawarkan suatu hal yang baru dan belum dapat dikatakan sebagai aliran / disiplin manajemen baru yang mempunyai batas – batas yang jelas.




6. PEMAHAMAN DAN SIMULASI FUNGSI – FUNGSI MANAJEMEN

Fungsi manajemen secara umum : perencanaan , pengorganisasian , pengarahan dan pengawasan. Dari semua fungsi tersebut saling berkaitan.
Simulasi : pelaksanaan
1. Merencanakan
Proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran yang telah disepakati.
2. Mengorganisasikan
Proses mengatur dan mengaloksikan suatu pekerjaan untuk bekerjasama guna mencapai sasaran yang spesifik.
3. Pengarahan
Proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan seluruh anggota.
4. Pengawasan
Proses untuk memastikan bahwa semua aktivitas telah sesuai dengan aktivitas yang telah direncanakan.

Siklus dari fungsi manajemen :
Merencanakan
1.Menggunakan logika dan
Metode untuk memikirkan
Sasaran dan tindakan

Pengawasan
4.memastikan bahwa
organisasi bergerak
mencapai tujuan organisasi

Mengorganisasikan
2.mengatur dan mengalikasikan
pekerjaan , wewenang , dan
sumber daya untuk mencapai
sasaran organisasi



Pengarahan
3.mengarahkan , mempengaruhi dan
memotivasi karyawan untuk
melaksanakan tugas penting


Inti dari simulasi fungsi – fungsi manajemen diatas adalah untuk mencapai tujuan.

PERTANYAAN BAB 4 DAN 5.

1. Yang dimaksud dengan sintesa / aliran berintregasi
2. Apakah teori dengan pendekatan sama
3. Apa saja pendekatan manajemen dan jenis – jenis manajemen
4. Adakah teori yang sesuai dengan semua kondisi
5. Apakah aliran kuantitatif
6. Bagaimana cara mengelompokan aliran
7. Apakah ada aliran lain / baru
8. Apakah aliran perilaku
9. Makna study waktu
10. T.M.klasik ada 2 , pembedanya

JAWAB :

1. Sintesa : gabungan dari beberapa aliran manajemen
2. Teori : sekumpulan pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis
Pendekatan :
3. Ada di bab 4
4. Tidak ada , karena setia teori punya tempat sendiri
5. Ada di bab 4
6. Dengan melihat uraian dari aliran tersebut
7. Belum ada
8. Aliran yang mengutamakan kemanusiaan
9. Pengaturan waktu dengan sebaik – baiknya
contoh :
- tukang yang meletakan batu , batunya harus tepat
- waktu membungkus batang rokok , 12 batang 4 menit
10. T.M.klasik : meningkatkan produktifitas
T.M.ilmiah : mengabaikan kemanusiaan
T.O.klasik : ada yang hilang pada T.M.ilmiah















PERTANYAAN DARI BAB 6.

1. Apa pembeda pengembangan dan pelatihan karyawan dalam fungsi stafing
2. Hubungan mendasar fungsi manajemen
3. Hubungan fungsi perencanaan dengan yang lain
4. Apabila salah satu fungsi tidak terlaksana apakah tujuan akan tercapai
5. Contoh masalah komplek

JAWAB :

1. Setelah kita mendapat pelatihan maka kita harus mau mengembangkan pelatihan itu sesuai potensi yang kita miliki
2. Saling terkait antara fungsi manajemen , ada mata rantai yang menghubungkan
3. Tanpa perencanaan , fungsi lain akan banyak hambatan
Semua organisasi punya tujuan :
- Perusahaan kecil (tahu , tempe)
Untuk mencari laba dan memenuhi kebutuhan
- Perusahaan besar
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat , mutu kesehatan , baru mencari laba
4. Tidak
Penghambat tercapainya tujuan :
- Pengetahuaan yang sedikit
- Kemampuan tidak ada
- SDM kurang / terbatas
- Besar hasrat tidak ada daya
- Daya ilusi rendah
5. Ada 2 golongan manusia
X : pemalas , kalau tidak disuruh tidak mau bekerja
Y : apapun resikonya akan dikerjakan , tanpa disuruh
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA: KUNCI SUKSES BISNIS INTERNASIONAL?
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA:
KUNCI SUKSES BISNIS INTERNASIONAL

Ketika seorang pebisnis sedang memproduksi, menjual, dan memasarkan produk sampai ke level konsumen, sttrategi mengenai produk pun bersumber dari dua sumber. Selain bahan mentah, tenaga kerja juga menjadi komponen dasar dan utama dalam mengembangkan perusahaan, hingga menuju pasar internasional. Manajemen sumber daya manusia berusaha meningkatkan kapabilitas, peran, hubungan, dan efektivitas para tenaga kerja dalam suatu perusahaan (organisasi), mulai dari: perencanaan jumlah (kuantitas) karyawan, perekrutan, pengelolaan karier, evaluasi dan penilaian prestasi kerja (kualitas), promosi/kompensasi pekerja, sampai pada relasi antar pekerja dalam perusahaan. Pertanyaan mendasar yang menjadi inti/pedoman tulisan ini ialah: apakah manajemen sumber daya manusia (MSDM) benar-benar merupakan kunci utama dalam mencapai profit perusahaan? Lantas, mengapa MSDM berpengaruh terhadap strategi pengembangan perusahaan internasional/multinasional?
Definisi, Pendekatan, dan Peran Penting MSDM
Ada beberapa definisi penting dalam memahami manajemen sumber daya manusia. Menurut A.F. Stoner, manajemen sumber daya manusia adalah suatu prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan untuk memasok suatu organisasi atau perusahaan dengan orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat organisasi memerlukannya. Hasibuan (2001 :10) menjelaskan tentang manajemen sumber daya manusia, “Ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien, membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat“. Sedangkan pandangan Simamora (2004 : 4), MSDM merupakan pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa, dan pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok karyawan, juga menyangkut desain dan implementasi sistem perencanaan, penyusunan karyawan, pengembangan karyawan, pengelolaan karir, evaluasi kinerja, kompensasi karyawan dan hubungan ketenagakerjaan yang baik.
Karena fokus MSDM terletak pada komposisi, internalisasi, dan eksternalisasi manusia, ada tiga pendekatan utama dalam mengatur dan mengelola tenaga kerja suatu perusahaan (khususnya perusahaan multinasional). (Pelmutter, 1969) Pertama, pendekatan etnosentris yang berfokus pada home-country manager. (Sullivan,2007). Struktur manajerial etnosentris sangat menggantungkan pada faktor kultural dan sosial negara asal, yang berpengaruh kuat terhadap kekuatan finansial perusahaan induk. Untuk meminimalisasi pengeluaran, mayoritas perusahaan internasional menggunakan tenaga kerja dalam negeri, walaupun belum tentu mereka memiliki skill yang lebih baik dibandingkan tenaga kerja dari luar negeri (Pasiama,2008). Keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan pendekatan ini adalah adanya force-fitting dalam bentuk standardisasi kebijakan penempatan staf, sehingga tercipta alur yang sistematis dalam perusahaan (Sullivan,2007). Contoh perusahaan multinasional yang menggunakan sistem ini ialah Apple Corporation, yang mencoba untuk memaksimalkan penjualan sesuai dengan selera konsumen (Sullivan,2007).
Kedua, pendekatan polisentris yang menitikberatkan pada perekrutan tenaga kerja local dari salah satu cabang perusahaan multinasional. (Sullivan,2007) Sistem yang berbanding terbalik dengan pendekatan etnosentris ini beradaptasi pada latar belakang kultural dan sosial di negara cabang perusahaan. Keuntungan yang diperoleh ialah adanya kemudahan dalam proses pemasaran dan kontrol produksi. Namun, gaji yang diberikan kepada para manajer lokal akan lebih sedikit secara signifikan dibanding menggunakan manajer yang langsung dikirim dari home country, karena adanya hambatan lisensi dan persaingan perusahaan yang tidak sehat. (Sullivan,2007).
Pendekatan terakhir bernama pendekatan geosentris, yang sangat berbeda dari pendekatan sebelumnya. Sebagai pendekatan transnasional, geosentris menyempurnakan konsep etnosentris dan polisentris melalui faktor struktural dan holistik dari seorang individu (tidak lagi dipandang secara kultural maupun sosial). (Sullivan,2007) Pendekatan ini tidak mudah untuk diterapkan karena membutuhkan kapabilitas yang tinggi dalam menyatukan gap antara teori dan realita yang dihadapkan pada politik dan budaya yang berbeda antarperusahaan (Sullivan,2007). Walaupun pendekatan geosentris sangat lemah dalam menyatukan cara pandang dalam membuat keputusan perusahaan, pendekatan tersebut tetap menunjukkan kapasitas variatif yang patut diperhitungkan dalam pasar internasional. Salah satu perusahaan yang menerapkan sistem ini ialah perusahaan printer Canon. (Sullivan,2007).
Di antara tiga pendekatan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa setiap pendekatan tergantung dari strategi internal suatu perusahaan. Pendekatan yang paling efektif tidak dapat diukur secara pasti karena seringkali perusahaan multinasional menggunakan lebih dari satu pendekatan. Tentunya, hal ini sangat berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab manajemen sumber daya manusia suatu perusahaan. Peran maksimal manajemen sumber daya manusia berawal dari proses persiapan dan seleksi tenaga kerja; rekrutmen dan seleksi (kuantitas karyawan/pekerja); pelatihan, pengembangan, dan penilaian prestasi (kapabilitas, kapasitas, dan kualitas karyawan/pekerja); sampai pada promosi, pemindahan, dan pemisahan (berpengaruh pada intensitas/tingkat loyalitas dan komitmen karyawan/pekerja terhadap suatu perusahaan). (Marihot Tua Efendi, 2005)

OPINI PRIBADI
MSDM sebagai Kunci Sukses Perusahaan Multinasional: Landasan Idealis atau Realis?
Pertanyaan di atas sangat berkaitan erat dari strategi suatu perusahaan, terutama perusahaan multinasional. Ketika bisnis internasional terjadi, perusahaan dituntut lebih banyak, lebih tangguh, dan lebih luas dalam memproduksi, mendistribusi, menjual, dan memasarkan produk. Kendala yang tidak boleh diremehkan ialah proses pengaturan dan pengelolaan manusia yang begitu kompleks dan mempengaruhi setiap proses bisnis lain dalam suatu perusahaan. Penulis yakin dan berpandangan positif bahwa MSDM termasuk kunci/strategi perusahaan dalam mencapai kesuksesan (profit maksimal). Namun, MSDM bukan satu-satunya kunci, kemampuan manajerial ini harus didukung dan ditunjang dengan kemampuan adaptif dalam berelasi internasional dan akuntabilitas finansial yang transparan, inklusif, dan terpimpin.
Landasan idealis yang muncul ialah terbentuknya rencana pendistribusian pekerja lokal dan luar negeri (ekspatriat) secara bersamaan dan mutualis. Perusahaan multi nasional menganggap bahwa sistem ini akan menciptakan keseimbangan dan penyetaraan hubungan, baik ditinjau dari tingkat kesejahteraan maupun posisi jabatan (antara pemimpin/manajer dengan serikat buruh). Kemampuan dan kapabilitas dalam beradaptasi dinilai sangat penting demi terwujudnya rencana yang ingin menunjukkan kepekaan dan tanggung jawab sosial korporat tersebut (corporate social responsibility/CSR).
Sayangnya, perusahaan multinasional seringkali mengingkari rencana idealis, yang sudah disepakati sejak awal. Realita yang terbentuk ialah serikat buruh sering mengalami penderitaan bahkan kematian akibat kemiskinan dan kelaparan, sedangkan para ekspatriat yang bekerja di cabang perusahaan multinasional (Contohnya: PT Freeport dan Newmont di Indonesia) terus mengeruk dan mengekploitasi kekayaan alam negara cabang hingga melakukan tindakan manipulasi, korupsi dengan pejabat setempat. Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi manajemen sumber daya manusia suatu perusahaan, apalagi bertaraf internasional. Kontrol manajerial tidak lagi menyangkut hubungan/komposisi dari manusia saja, tapi jauh lebih luas dan mencakup strategi finansial, relasional, fungsional, dan profesionalitas perusahaan internasional.
Strategi finansial yang dimaksud, yaitu adanya akuntabilitas, transparansi dan komitmen penuh dari perusahaan induk untuk mengaudit/mereview setiap mekanisme dana yang terkumpul. Bila perlu, lakukan aplikasi manajemen sumber daya manusia berbasis kompetensi finasial. (Deskripsi Aplikasi Manajemen Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi, dalam http://www.asb.co.id/document/deskripsi_msdm-bk.pdf. Diakses tanggal 21 Desember 2009) Strategi relasional merupakan cara efektif yang ditempuh perusahaan dalam membina kekeluargaan/harmonisasi atau nilai moral positif lainnya antara buruh (pekerja bawah) dengan para direktur (manajer puncak). Sedangkan strategi fungsional dan profesionalitas mengandung butir-butir tanggung jawab perusahaan yang bersifat resmi, sah, dan legal di mata hukum. Artinya, perusahaan internasional mampu menanggung segala risiko yang dihadapi dan siap menanganinya dalam kasus hukum (legal binding treaty). Dengan demikian, strategi manajemen sumber daya manusia dalam perusahaan multi nasional akan berdampak efektif, efisien, dan kondusif bagi alur bisnis internasional.

REFERENSI:

Artikel/Buku
A.F Stoner
Hariandja, Marihot Tua Efendi, (2005), Manajemen Sumber Daya Manusia : Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian, dan Peningkatan Produktivitas Pegawai, Cetakan ketiga, PT Grasindo, Jakarta.
Hasibuan (2001:10)
Pasiama,Hasanuddin.2008.Manajemen Sumber Daya Manusia Global.Pusat Pengembangan Bahan Ajar.
Simamora (2004:4)
Sullivan R, Daniels. 2007. Human resources management, Case: A Career In International Business. Pearson International Edition

Internet
Deskripsi Aplikasi Manajemen Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi, dalam http://www.asb.co.id/document/deskripsi_msdm-bk.pdf. Diakses tanggal 21 Desember 2009
Diposkan oleh Grace di 20:54

Ringkasan Buku Manajemen Sumber Daya Manusia ed. 10
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) adalah suatu sistem formal dalam sebuah organisasi untuk memastikan penggunaan bakat dan kompentensi manusia secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan-tujuan organisasi. Tidak peduli apakah perusahaan tersebut merupakan perusahaan besar dengan 10.000 karyawan atau organisasi nirlaba kecil yang memiliki hanya 10 karyawan, karyawan-karyawan tersebut harus dibayar, yang berarti diperlukan suatu sistem remunerasi yang baik dan sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Karyawan juga harus direkrut, diseleksi, dilatih, dan dikelola dengan baik. Setiap aktivitas ini membutuhkan pemikiran dan pemahaman tentang apa yang akan berhasil dan apa yang tidak. Penelitian mengenai persoalan-persoalan ini dan pengetahuan dari berbagai pendekatan yang berhasil membentuk dasar MSDM. Dalam sebuah lingkungan di mana angkatan kerja terus berubah, hukum berganti, dan kebutuhan-kebutuhan perusahaan juga berkembang, MSDM harus ikut berubah dan berkembang. Hal ini menjadi syarat mutlak terutama ketika perusahaan beroperasi secara global. Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi 10 karya Mathis dan Jackson telah merupakan salah satu buku teks MSDM yang paling jelas, lengkap, dan komprehensif sehingga menjadi buku acuan di banyak perguruan tinggi maupun kalangan praktisi MSDM di seluruh dunia. Buku ini menyajikan materi-materi mengenai MSDM yang senantiasa diperbarui dan memberikan saran-saran untuk menangani beragam persoalan dan situasi seputar MSDM. Selain itu, buku ini juga menghadirkan kasus-kasus nyata yang dihadapi perusahaan dan contoh-contoh praktik MSDM berbasis Internet.
Muhammad Zainal Abidin Personal Blog

Manajemen Berbasis Sekolah
20 02 2010
BAB I
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Rasional
Globalisasi terjadi antara lain disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya, sehingga menuntut perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan, ekonomi, politik, sosial dan budaya, termasuk pendidikan.
Bangsa Indonesia harus menghadapi revolusi industri dan revolusi informasi secara bersamaan, berarti harus mampu menyelesaikan krisis yang sedang dihadapi serta ketinggalan di bidang ilmu dan teknologi yang merupakan tumpuan teknologi.
Dengan kata lain kita tidak bisa mewujudkan cita-cita reformasi, serta bertahan sebagai bangsa yang berdaulat dan menentukan masa depan sendiri, apabila tidak mampu menangani dan ikut menciptakan informasi yang bersifat strategis seperti kekayaan alam dan pengembangan cara kerja dibidang produksi, serta menguasai sistem pengkomunikasiannya tepat waktu dan tepat sasaran.
Rendahnya kualitas SDM merupakan masalah mendasar yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional.
Jika Bangsa Indonesia ingin berkiprah dalam percaturan global,maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menata SDM, baik dari segi intelektual, emosional, spiritual, kreatifitas, moral maupun tanggung jawabnya yang perlu diupayakan secara bertahap dan berkesinambungan melalui sistem pendidikan yang berkualitas.
Indikator-indikator yang menunjukkanbahwa pendidikan belummapu menghasilkan SDM berkualitas dapat diidentifikasi sebagai berikut :
• Masalah tenaga kerja yang sering terkatung-katung, tanpa pemecahan yang jelas, sehingga SDM Indonesia dipandang rendah oleh negara lain.
• Banyaknya isu teroris, bahkan Indonesia telah dituduh sebagai sarangnya teroris, setelah peristiwa bom Bali yang diikuti serangkaian peristiwa pemboman lainnya.
• Bangsa Indonesia merupakan bangsa koruptor terdepan didunia, karena korupsi, kolusi dan nepotisme semakin marak dimana-mana.
• Banyaknya generasi muda, pelajar dan mahasiswa terlibat dengan narkoba, VCD Porno dan perjudian.
• Sebagai akumulasi dari keempat indikator diatas, ternyata kehidupan berbangsa dan bernegara belum tumbuh budaya mutu, budaya malu dan budaya kerja, baik dikalangan para pemimpin maupun masyarakat pada umumnya.
Kegagalan antara lain disebabkan oleh masalah manajemen yang kurang tepat, sehingga tujuan Pendidikan Nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan mutu pada setiap jenis dan jenjang pendidikan belum dapat diwujudkan.
Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan merupakan proses pengembangan kegiatan kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Proses kegiatan pengendalian kegiatan kelompok tersebut mencakup perencanaan (planning), pengorganisasian (organising), penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses untuk menjadikan visi menjadi aksi.
Manajemen pendidikan yang merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efektifitas pelayanan pendidikan, melakukan perencanaan, pengambilan keputusan, perilaku kepemimpinan, penyiapan alokasi sumber daya, stimulus dan koordinasi personil, penciptaan iklim organisasi yang kondusif, serta penentuan pengembangan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan masyarakat dimasa depan.
Manajemen pendidikan pada hakekatnya menyangkut tujuan pendidikan, manusia yang melakukan kerja sama serta sumber-sumber yang didayagunakan. Manajemen Pendidikan merupakan suatu cabang Ilmu manajemen yang mempelajari penataan sumber daya manusia, kurikulum, fasilitas, sumber belajar dan dana serta upaya pencapaian tujuan lembaga secara dinamis.
# Proses Manajemen Pendidikan
Pengertian manejemen pendidikan yang telah dipaparkan diatas memberikan berbagai implikasi terhadap aspek-aspek yang terkait dengan lingkungan pendidikan, baik secara makro maupun mikro untuk mencapai tujuan.
# Bidang Garapan Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan merupakan suatu sistem pengelolaan dan penataan sumber daya pendidikan seperti tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat, kurikulum, dan (keuangan) sarana dan prasara pendidikan, tata laksana dan lingkungan pendidikan.
Fungsi utama manajemen pendidikan adalah perencanaan pelaksanaan dan pengawasan. Efektifitas pendidikan dapat dilihat dari sudut prestasi yaitu mampu menampung masukan yang banyak dan menghasilkan tamatan yang banyak, bermutu dalam arti mampu bersaing didalam adanya keterkaitan dan kesepadanan dengan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun.
Dalam organisasi pendidikan yang produktif, seluruh keputusan dan tindakan harus ditetapkan berdasarkan pertimbangan yang berlandaskan pada pengetahuan dan keahlian bukan oleh kekuasaan. Pada dasarnya pendidikan memiliki tujuan yang akan dicapai dan untuk merealisasikannya perlu didukung oleh kurikulum yang jelas, pembelajaran, ketenangan (SDM) sarana, dana, informasi dan lingkungan kondusif, yang dikelola melalui suatu proses sistematik dan sistematis.
Paradigma Baru Manajemen Pendidikan
Paradigma baru manajemen pendidikan harus sejalan dengan semangat Undang-Undang Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Undang-Undang Sisdiknas), Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (UUPD), UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbanagn Keuangan Antara Pusat dan Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemerintah dan Propinsi Sebagai Daerah Otonomi.
Nurhadi (1999) mengungkapkan sedikitnya terdapat tiga dasar pemikiran yang melandasi UU Nomor 22 sebagai berikut :
• Dalam rangka memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah.
• Penyelenggaraan otonomi daerah diharapkan dengan prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta kemandirian, menjaga keserasian hubungan pusat dan daerah serta meningkatkan peran dan fungsi legislatif.
• Semua itu dimaksudkan guna menghadapi tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan luas, nyata dan bertanggung jawab secara profesional.
Undang-Undang Pemerintah Daerah 1999 mengemukakan tiga struktur pemerintah daerah yaitu :
• Pemerintah pusat atau pemerintah.
• Daerah otonomi yang terdiri dari daerah propinsi sebagai daerah otonomi dan wilayah administrasi dan.
• Daerah kabupaten/ kota yang masing-masing berdiri sendiri.
Dalam pelaksanaannya baik dari segi kewenangan maupun sumber dana pendidikan, pemerintah daerah kabupaten dan kota akan memegang layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan, lebih cepat, lebih efisien dan efektif serta dapat menegakkan aparat yang bersih dan berwibawa.
Terdaapat enam permasalahn yang harus diantisipasi pada paradigma baru manajemen pendidikan dalam konteks otonomi daerah, yakni kepentingan nasional, mutu pendidikan efisiensi pengelolaan, perluasan dan pemerataan, peran serta masyarakat dan akuntabilitas.
Dalam paradigma baru manajemen pendidikan, melukiskan fungsi-fungsi pendidikan yang didesentralisasikan ke sekolah sebagai berikut :
• Perencanaan dan Evaluasi. Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya misalnya untuk meningkatkan mutu, sekolah harus melakukan analisis kebutuhan.Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri yang harus dilakukan secara jujur, adil dan transparan.
• Kurikulum. Daerah dan sekolah juga diberikan kebebasan untuk mengembangkan silabus mata pelajaran ketrampilan pilihan, yang merupakan unggulan daerah muatan lokal.
• Pembelajaran. Pembelajaran utama sekolah pelaksanaannya memilih strategi, pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang paling efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, peserta didik, guru serta kondisi nyata.
• Ketenagaan. Pengelolaan ketenagaann mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, rekrutmen, pengembangan, hadiah dan sangsi, hubungan kerja, sampai evaluasi kinerja tenaga kependidikan.
• Fasilitas. Pengelolaan fasilitas yang mencakup pengelolaan, pemeliharaan, perbaikan dan pengembangan merupakan kewenangan sekolah.
• Keuangan. Pengelolan keuangan terutama pengalokasian dan penggunaan uang dilakukan oleh sekolah dibawah pimpinan dan koordinasi kepala sekolah.
• Kepesertadidikan (Peserta Didik). Pengelolaan kepesertadidikan, mulai dari penerimaan pengembangan, pembinaan, pembimbing, penempatan untuk melanjutkan sekolah.
• Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat. Dalam alam demokratis masyarakat merupakan patner sekolah dalam melaksanakan pendidikan dan pembelajaran.
• Iklim Sekolah. Iklim sekolah yang kondusif-akademik baik fisik maupun nonfisik merupakan landasan bagi penyelenggaraan pembelajaran yang efektif dan produktif.
Profesionalsme Kepemimpinan Kepala Sekolah
Pengembanangan sumber daya manusia termasuk didalamnya adalah peningkatan partisipasi manusia melaui perluasan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan peluang kerja dan berusaha. Kepala Sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan pendidikan. Kepala sekolah harus mempunyai visi dan misi serta strategis.
Pengembangan profesionalisme kepala sekolah merupakan tugas dan wewenang para pengawas yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Pendidikan Nasional.
Tanggung jawab pengawas sekolah adalah :
• Melaksanakan pengawasa penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan penugasannya.
• Meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar.
Sedangkan wewenang pengawas sekolah adalah :
• Memilih dan menentukan metode kerja untukmencapai hasil yang optimal sesuai dengan kode etik profesi.
• Menentukan dan mengusulkan program pembinaan serta melakukan pembinaan.
BAB II
IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Perlunya Manjemen Berbasis Sekolah
Upaya meningkatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, tangguh, kreatif, mandiri, demokratis dan profesional pada bidangnya masing-masing.
Dalam kaitan ini visi, misi dan strategi Dinas Pendidikan Nasional pada tingkat kabupaten dan kota harus dapat mempertimbangkan dengan bijaksana kondisi nyata sekolah dan masyarakat. Untuk kepentingan tersebut diperlukan paradiguna baru manajemen pendidikan.
Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah
MBS adalah suatu ide tentang pengambilan keputusan yang diletakkan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah. MBS merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai dengan potensi, tuntutan dan kebutuhannya.
Dalam sistem MBS semua kebijakan dan program sekolah ditetapkan oleh komite sekolah dan dewan pendidik.
Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah
Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerjanya, proses pembelajaran, pengajaran sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan, serta sistem administrasi secara keseluruhan. MBS adalah pemberian otonomi yang luas keapada sekolah partisipasi masyarakat dan orangtua.
• Pemberian otonomi luas kepada sekolah. MBS memberi otonomi luas kepada sekolah sebagai lembaga pendidikan dan lebih memberdayakan tenaga kependidikan guru agar lebih berkonsentrasi pada tugas utamanya mengajar.
• Partisipasi Masyarakat dan Orang Tua. Program-program sekolah didukung oleh partisipasi masyarakat dan orangtua peserta didik yang tinggi melalui bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidik.
• Kepemimpinan Yang Demokratis dan Profesional. Kepala sekolah adalah manajer pendidikan profesional yang direkrut oleh komite sekolah untuk mengelolah segala kegiatan sekolah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan.
• Team Work Yang Kompak dan Transparan. Dalam MBS keberhasilan program-program sekolah didukung oleh kinerja team work yang kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan sekolah. Empat faktor penting yang perlu diperhatikan dalam implementasi MBS, yakni kekuasaan, pengetahuan dan ketrampilan, sistem informasi serta penghargaan.
@ Kekuasaan Yang Dimiliki Sekolah. Besarnya kekuasaan sekolah tergantung bagaimana MPS dapat diimplementasikan pemberian kekuasaan secara utuh sepeti dituntut MBS tidak mungkin dilaksanakan sekaligus, tetapi memerlukan proses transisi dari manajemen terpusat.
@ Pengetahuan dan Ketrampilan. Sekolah warga sekolah perlu memiliki pengetahuan untuk meningkatkan prestasi, memahami dan melaksanakan berbagai teknik, untuk itu sekolah harus memiliki sistem pengembangan sumber daya manusia.
@ Sistem Informasi Yang Jelas. Informasi yang jelas untuk monitoring, evaluasi dan akuntabilitas sekolah, informasi yang amat penting untuk dimiliki sekolah antara lain berkaitan dengan kemampuan guru, peserta didik serta visi dan misi sekolah.
@ Sistem Penghargaan. Sekolah yang melaksanakan MBS perlu menyusun sistem penghargaan bagi warganya yang berprestasi, untuk mendorong karirnya. Oleh karena itu sistem penghargaan yang dikembangkan harus bersifat proporsional, adil dan transparan.
Implementasi MBS di Indonesia
Untuk mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien, kepala sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan, perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan.
Dengan memperhatikan iklim sekolah yang kondusif, otonomi sekolah, kewajiban sekolah, kepemimpinan kepala sekolah yang demokratis dan profesional, serta partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik dalam dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan pengawasan pendidikan disekolah.
• Pelaksanaan MBS perlu didukung oleh iklim yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman, nyaman dan tertib. Sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan.
• Otonomi Sekolah. Dalam MBS kebijakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya harus didesentralisasikan ke sekolah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara lebih fleksibel.
• Kewajiban Sekolah. Manajemen berbasis sekolah menawarkan keleluasaan pengelolaan sekolah memiliki potensi yang besar dalam menciptakan kepala sekolah, guru dan pengelola sistem pendidikan profesioal. Dengan demikian sekolah dituntut mampu menampilkan pengelolaan sumberdaya secara transparan, demokratis tanpa memonopoli dan bertanggung jawab baik terhadap masyarakat maupun pemerintah.
• Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Demokratis Dan Profesional. Pelaksanaan MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah profesional yang memiliki kemampuan manajerial dan integritas pribadi untuk mewujudkan visi menjadi aksi serta demokratis dan transparan dalam berbagai pengambilan keputusan. Dalam implementasi MBS kepala sekolah harus mampu sebagai indikator, manajer, administratior, supervisor, inovator dan motivator pendidikan (Emaslim).
• Partisipasi Aktif Masyarakat dan Orang Tua. MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas untuk membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat serta mengefisienkan sistem dan mengendurkan birokrasi yang tumpang tindih.
Pada kenyataan sekolah dewasa ini partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah masih relatif rendah.
Demikian halnya partisipasi orang tua peserta didik masih terbatas pada pemberian bantuan finansial untuk mendukung kegiatan-kegiatan operasional sekolah.
Dalam implementasi MBS keterlibatan aktif berbagai kelompok masyarakat dan pihak orang tua dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan program-program pendidikan di sekolah merupakan sesuatu yang sangat diperlukan.
________________________________________


________________________________________
Seria Manajemen SDM : Peran Strategis Pengembangan Sumber Daya Manusia
Dipublikasikan pada 01 November 2006 oleh Asta Qauliyah
Jika anda baru mengunjungi Astaqauliyah.com, maka ini adalah kesempatan berharga buat anda. Silahkan berlangganan artikel Astaqauliyah.com melalui email anda. Kami akan mengirimkan resume ke email anda setiap kali ada postingan baru di blog ini. Klik di sini di sini untuk mendaftar!
You were searching for "pengertian manajemen sumber daya manusia berbasis global". See posts relating to your search »
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah faktor sentral dalam suatu organisasi. Apapun bentuk serta tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia. Jadi, manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi. Selanjutnya, MSDM berarti mengatur, mengurus SDM berdasarkan visi perusahaan agar tujuan organisasi dapat dicapai secara optimum. Karenanya, MSDM juga menjadi bagian dari Ilmu Manajemen (Management Science) yang mengacu kepada fungsi manajemen dalam pelaksanaan proses-proses perencanaan, pengorganisasian, staffing, memimpin dan mengendalikan.

Foulkes (1975) memprediksi bahwa peran SDM dari waktu ke waktu akan semakin strategis dengan ucapan berikut:
“For many years it has been said that capital is the bottleneck for a developing industry. I don’t think this any longer holds true. I think it’s the work force and the company’s inability to recruit and maintain a good work force that does constitute the bottleneck for production. … I think this will hold true even more in the future.”[2]
Tidak heran jika sekarang untuk SDM yang handal digunakan terminologi human capital yang semakin santer kita dengar.
Lawas mata kuliah MSDM
Lawas mata kuliah MSDM sesuai dengan fungsi MSDM yaitu hal ihwal staffing dan personalia dalam organisasi, yang mencakup analisis tugas/jabatan, rekrutmen dan seleksi calon tenaga kerja, orientasi, pelatihan, pemberian imbalan, penilaian dan pengembangan SDM. Karena sebagian atau seluruh tugas tentang penempatan personalia yang tepat untuk tugas yang tepat, orientasi, pelatihan, pemberian imbalan, promosi, pendisiplinan serta penilaian kerja untuk perbaikan kinerja merupakan tugas setiap manajer maka scope MSDM mencakup seluruh tugas tentang SDM yang diemban oleh setiap manajer. Dan aspek manajemen serta SDM demikian strategis dan demikian luasnya, maka MSDM melibatkan banyak aspek, terutama dengan faktor-faktor lingkungan internal organisasi (kekuatan dan kelemahan) serta lingkungan eksternal (peluang dan ancaman).
Tantangan manajer masa kini adalah merespons perubahan-perubahan eksternal agar faktor-faktor lingkungan internal perusahaan menjadi kuat dan kompetitif.
MSDM Strategis
Dessler (2000) mendefinisikan Manajemen SDM strategis sebagai berikut:
“Strategic Human Resource Management is the linking of Human Resource Management with strategic role and objectives in order to improve business performance and develop organizational cultures and foster innovation and flexibility”. [3]
Jelaslah bahwa para manajer harus mengaitkan pelaksanaan MSDM dengan strategi organisasi untuk meningkatkan kinerja, mengembangkan budaya korporasi yang mendukung penerapan inovasi dan fleksibilitas.
Peran strategis SDM dalam organisasi bisnis dapat dielaborasi dari segi teori sumber daya, di mana fungsi perusahaan adalah mengerahkan seluruh sumber daya atau kemampuan internal untuk menghadapi kepentingan pasar sebagai faktor eksternal utama. Sumber daya sebagaimana disebutkan di atas, adalah SDM strategis yang memberikan nilai tambah (added value) sebagai tolok ukur keberhasilan bisnis. Kemampuan SDM ini merupakan competitive advantage dari perusahaan. Dengan demikian, dari segi sumber daya, strategi bisnis adalah mendapatkan added value yang maksimum yang dapat mengoptimumkan competitive advantage. Adanya SDM ekspertis: manajer strategis (strategic managers) dan SDM yang handal yang menyumbang dalam menghasilkan added value tersebut merupakan value added perusahaan.
Value added adalah SDM strategis yang menjadi bagian dari human capital perusahaan.
Kecenderungan global: Perubahan, pergeseran
Manajer masa kini dituntut untuk cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang berlangsung cepat. Tingginya dinamika atau cepatnya perubahan dapat tergambar dari total perdagangan (impor dan ekspor) Amerika Serikat pada tahun 1991 bernilai US$ 907 milyar, pada tahun 1996 meningkat menjadi US$ 1.4 trilyun. Perubahan ini disebabkan antara lain oleh:
• berbagai kemajuan teknologi yang berlangsung sangat cepat pada 10-20 tahun terakhir, terutama dalam telekomunikasi, penggabungan komputer dengan komunikasi, CAD, CAM dan robotika.
• pengaruh globalisasi: perusahaan manufaktur Amerika Serikat memanfaatkan buruh murah di negara-negara berkembang, persaingan yang semakin mendunia, produksi manufaktur multinasional (Toyota di AS, IBM di Jepang dsb.).
• pengaruh deregulasi atau berkurangnya pengaturan harga, entry tariff dsb. oleh pemerintah, proteksi dan monopoli yang semakin berkurang menyebabkan munculnya berbagai perusahaan baru dalam bidang telekomunikasi, penerbangan, bank yang beroperasi dengan biaya yang relatif lebih rendah (sangat kompetitif).
• demografi tenaga kerja global yang berubah, mengarah kepada workforce diversity, diskriminasi tenaga kerja yang semakin longgar, bertambahnya tenaga usia tua dan tenaga kerja wanita
• perubahan sistem sosio-politik seperti Rusia yang menjadi kapitalis, RRT yang menjadi negara industri, berdirinya asosiasi-asosiasi regional (EU, NAFTA, APEC dll.) yang bertujuan antara lain untuk kerjasama ekonomi, liberalisasi dan deregulasi perdagangan; reformasi di Indonesia yang meruntuhkan orde baru mestinya membawa paradigma baru di dunia usaha.
Pergeseran-pergeseran yang telah disebutkan di atas berdampak kepada semakin banyaknya pilihan bagi konsumen; terjadinya mergers, joint-venture dan bahkan divestasi dan menutup usaha; siklus hidup produk menjadi lebih pendek dan terjadi fragmentasi pasar. Fenomena-fenomena tersebut menimbulkan ketidak pastian sebagai tantangan terhadap tugas manajer. Menjawab tantangan ini, agar dapat bersaing dan sustainable sesuai tuntutan perubahan, organisasi bisnis harus responsif, cepat bereaksi dan cost-effective.
Organisasi yang lebih datar (flat organization) kini menjadi norma baru. Organisasi piramidal dengan 7 – 10 lapis kini mulai di”datar”kan menjadi hanya 3 – 4 lapis (AT&T dan GE dari 12 kini menjadi hanya 6 lapis atau kurang). Bentuk piramidal kini bahkan dianggap kuno, tradisional, out of style, “rantai komando” semakin tidak diikuti, tetapi tentunya dengan operating procedures yang jelas. Ini juga menjadi pertimbangan bagi organisasi perguruan tinggi. Jika kita benar mengacu kepada cost effectiveness dan fungsi-fungsi line and staff management yang efisien, apakah memang diperlukan adanya para pembantu dekan jika sudah ada pembantu rektor, atau sebaliknya? Bukankah staff dan line functions kedua management lines tersebut sama? Apakah tidak terdapat redundancy yang berakibat pemborosan? Yang jelas kita mengikuti pola ini karena kepatuhan kepada peraturan pemerintah yang memang memerlukan debirokrasi. Kita tidak akan membahas masalah-masalah perlunya debirokrasi dan pemborosan yang berlebihan di negara kita sekarang ini karena untuk melakukannya mungkin diperlukan waktu bertahun-tahun, yang tentunya juga kurang manfaatnya jika para penentu policy enggan mendengarkan apalagi mau mengubahnya.
Perampingan personalia (downsizing),), dan kecenderungan bekerja dalam team yang lebih mendasarkan kerjanya kepada process, bukan fungsi spesialisasi, semakin menonjol. Istilah pemberdayaan yang kini digunakan dalam banyak aspek, juga merambah ke manajemen SDM. Pemberdayaan tenaga kerja (employee empowerment) dilaksanakan terutama bagi front line employees (seperti front desk clerks) untuk memberikan kepuasan maksimum kepada pelanggan.
Berkaitan dengan kiprah manajer mengantisipasi perubahan struktur organisasi bisnis, Prof. Rosebeth Moss Kanter mengatakan:
“Position, title and authority are no longer adequate tools for managers to rely on to get their jobs done. Instead, success depends increasingly on tapping into sources of good idea, on figuring out whose collaboration is needed to act on those ideas, and on working with both to produce results.” [4]
Manajemen sekarang telah banyak berubah dari keadaan 20-30 tahun lampau, di mana human capital menggantikan mesin-mesin sebagai basis keberhasilan kebanyakan perusahaan. Drucker (1998), pakar manajemen terkenal bahkan mengemukakan bahwa tantangan bagi para manajer sekarang adalah tenaga kerja kini cenderung tak dapat diatur seperti tenaga kerja generasi yang lalu. Titik berat pekerjaan kini bergerak sangat cepat dari tenaga manual dan clerical ke knowledge-worker yang menolak menerima perintah (“komando”) ala militer, cara yang diadopsi oleh dunia bisnis 100 tahun yang lalu.[5]
Kecenderungan yang kini berlangsung adalah, angkatan kerja dituntut memiliki pengetahuan baru (knowledge-intensive, high tech.- knowledgeable) , high tech.- knowledgeable) yang sesuai dinamika perubahan yang tengah berlangsung. Tenaga kerja di sektor jasa di negara maju (kini sekitar 70 persen) dari tahun ke tahun semakin meningkat, dan tenaga paruh waktu (part-timer) juga semakin meningkat. Pola yang berubah ini menuntut “pengetahuan” baru dan “cara penanganan” (manajemen) yang baru. Human capital yang mengacu kepada pengetahuan, pendidikan, latihan, keahlian, ekspertis tenaga kerja perusahaan kini menjadi sangat penting, dibandingkan dengan waktu-waktu lampau[6].
Dalam ketegori workforce diversity, sedang berlangsung peningkatan umur manusia yang berdampak kepada meningkatnya umur lanjut memasuki angkatan kerja. Di AS dalam 20 tahun terakhir (sejak 1979) terjadi peningkatan umur median dari 34.7 tahun ke 37.8 (1995) dan diproyeksikan menjadi 40.5 pada tahun 2005, sedang berlangsung peningkatan umur manusia yang berdampak kepada meningkatnya umur lanjut memasuki angkatan kerja. Di AS dalam 20 tahun terakhir (sejak 1979) terjadi peningkatan umur median dari 34.7 tahun ke 37.8 (1995) dan diproyeksikan menjadi 40.5 pada tahun 2005[7]. Demikian pula tenaga kerja wanita termasuk wanita berkeluarga dan dual career secara global cenderung meningkat.
Bank teller, operator telepon, juru tik, semua kini menggunakan komputer sehingga penguasaan atas komputer bukan lagi fakultatif atau alternatif tetapi mutlak bagi angkatan kerja white collar sekarang ini. Berlangsungnya progress globalisasi dan teknologi di Indonesia juga tidak ketinggalan. Perhatikan iklan Arthur Anderson/Prasetyo Strategic Consulting, operator telepon, juru tik, semua kini menggunakan komputer sehingga penguasaan atas komputer bukan lagi fakultatif atau alternatif tetapi mutlak bagi angkatan kerja white collar sekarang ini. Berlangsungnya progress globalisasi dan teknologi di Indonesia juga tidak ketinggalan. Perhatikan iklan Arthur Anderson/Prasetyo Strategic Consulting[8], yang membuka pelamar kerja untuk Information Technology Systems and Network Security Consultants Systems and Network Security Consultants (yang menguasai IT security products seperti Firewall etc.); Enterprise Solutions Risk Management Consultants (pengalaman dalam implementasi SAP review/audit, Oracle, project management); Banking Systems Specialist, Telecommunications System Consultants (a.l. berpengalaman dalam finance & accounting system, internet service provision, E-Commerce, EDP audit etc.); E-Business consultants, dan Integrated Customer Solutions Consultants.
Penutup
Jelaslah bahwa dinamika bisnis awal abad 21 sekarang mengandung kata-kata kunci seperti: high tech knowledge-based HR, strategic management, IT, e-business (banking, commerce, procurement etc.). Inilah antara lain tantangan manajer masa kini, dan angkatan kerja abad 21. Lembaga pendidikanpun perlu berubah, perlu menyesuaikan diri, tinggalkan paradigma lama agar tak tertinggal bersama keusangan abad yang lalu.
Kepustakaan/Acuan
Dessler, Gary (2000): Human Resource Management, International Edition, 8th Ed. Prentice Hall, Inc., Upper Saddle River, New Jersey.
Jarvis, Chris: http://sol.brunel.ac.uk/~jarvis/bola/personnel/index.html#pest
Andi Dungan, PhD: http://www.graceland.edu/~dungan/hrm/homepage_hrm.html
[1] Oleh: Rudy C Tarumingkeng, PhD. Kuliah Perdana Manajemen Sumber Daya Manusia, Program Pasca Sarjana – Magister Manajemen, Universitas Kristen Krida Wacana, 14 Februari 2000. Antologi UKRIDA 7:1-9 (2000).
[2] Foulkes, Fred K. (1975). Harvard Business Review, March-April 1975
[3] Dessler, Gary (2000): Human Resource Management, International Edition, 8th Ed. Prentice Hall, Inc., Upper Saddle River, New Jersey.
[4] Kanter, Rosabeth Moss (1989). The New Managerial Works. Harvard Business Review, Nov-Dec 1989, p. 88.
[5] Drucker, Peter (1988). The Coming of the New Organization. Harvard Business Review. Jan-Feb 1988, p. 45.
[6] Moskowitz, R. and Warwick D. (1996). The 1994-2005 Job Outlook in Brief. Occupational Outlook Quarterly 40(1): 2-41.
[7] Fullerton, Jr., H. (1993). Another Look at the Labor Force. Monthly Labor review. Nov. 1993

ANALISIS FAKTOR

Analisis Faktor mempunyai tujuan terpenting yaitu menjelaskan hubungan di antara banyak variabel dalam bentuk beberapa faktor. Analisis faktor dalam prosesnya mencoba menemukan hubungan antar sejumlah variabel-variabel yang saling bebas satu sama lain sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awaL

Tujuan dari Analisis Faktor antara lain:

1. Data Summarization, yakni mengidentifikasi adanya hubungan antar variabel dengan melakukan uji korelasi. Jika korelasi dilakukan antar variabel (dalam pengertian SPSS adalah 'kolom'), analisis tersebut dinamakan R Factor analysis. Tetapi apabila korelasi dilakukan antar respondenatau kasus sampel penelitian (dalam pengertian SPSS adalah 'baris'), analisis disebut Q Factor Analysis, yang juga popular disebut CLUSTER ANALYSIS.


2. Data Reduction, yakni setelah melakukan korelasi, dilakukan proses membuat sebuah variabel set baru yang dinamakan faktor untuk menggantikan sejumlah variabel tertentu.

Asumsi Analisis Faktor, antara lain:
1. Besar korelasi atau korelasi antar indenpenden variabel hams cukup kuat, misal di atas 0,5.
2. Besar Korelasi Parsial, korelasi antar dua variabel dengan menganggap tetap variabel yang lain, justru harus kecil. Pada SPSS, deteksi terhadap korelasi parsial diberikan lewat pilihan ANTI-IMAGE CORRELATION.
3. Pengujian seluruh matrik korelasi (korelasi antar variabel), yang diukur dengan besaran BARLETT TEST OF SPHERICITY atau MEASURE SAMPLING ADEQUACY (MSA). Pengujian ini mengharuskan adanya korelasi yang signifikan di antara paling sedikit beberapa variabel.
4. Pada beberapa kasus, asumsi NORMALITAS dari variabel-variabel atau faktor yang terjadi sebaiknya dipenuhi.


MODEL

Misalkan variabel acak x tergantung secara linier pada sejumlah variabel acak tak teramati yaitu Fl' F2' F3' , Fn (Faktor bersama) dim ana n < p,
sedangkan El' E2' E3""""'" En adalah error atau faktor-faktor spesifik.


Sehingga persamaan umum analisa faktor dapat dirumuskan seperti formula berikut ini :
X¬¬¬¬¬1¬-m 1 = I 11 F1 + I 12 F2 + I 13 F3 +……+ I 1n Fn ++ £i
X¬¬¬¬¬2¬-m 2= I 21 F1 + I 22 F2 + I 23 F3 +……+ I 2n Fn ++ £2
……………………..

X¬¬¬¬¬p¬-m p= I p1 F1 + I p2 F2 + I p3 F3 +……+ I pn Fn ++ £p



Atau secara matriks dapat dirumuskan :
X¬¬¬¬¬ px1 ¬-m px1= I pxn Fnp1 + £px1

Dimana :

m 1 : rata-rata dari variabel ke-i

£1 : faktor spesifik ke-I (error ke-I)
1ij : loading factor variabel ke-I pada faktor ke-j
Fi : common factor ke-j
L : matriks factor loading
I :1,2,3…..,P
J :1,2,3…..,P



Jumlah kuadrat dari loading untuk variabel ke-I pada faktor ke-J disebut komunalitas ke-I :

h1 = l11 + l12 + … + l1n

Umumnya faktor-faktor diperoleh berdasarkan informasi dari matriks loading L belum dapat langsung diinterpretasikan. Untuk itu dilakukan cara dengan merotasikan matriks loading faktor L dengan menggunakan metode tegak lurus varimax yang menghasilkan matriks L.


Proses Analisis Faktor



Secara garis besar, tahapan pada analisis faktor :

1. Memilih variabel yang layak dimasukkan dalam analisis faktor. Oleh karena analisis faktor berupaya mengelompokkan sejumlah variabel, maka seharusnya ada korelasi yang cukup kuat di antara variabel, sehingga akan
terjadj pengelompokkan. Jika sebuah variabel atau lebih berkorelasi lemah dengan variabel lainnya, maka variabel tersebut akfu'1 dikeluarkan dari analisis faktor. Dengan melihat contoh di atas, dari 13 variabel, mungkin saja, dalam seleksi ada satu atau lebih variabel yang gugur. Alat seperti MSA atau Barlett's Test dapat digunakan untuk keperluan ini.

2. Setelah sejumlah variabel terpilih, maka dilakukful 'ekstrasi' variai._ _ tersebut hingga menjadi satu atau beberapa faktor. Beberapa met047" ;; pencarian faktor yang populer adalah Principal Component dan Maxim_ _ likehood.

3. Faktor yang terbentuk, pada banyak kasus, kurang menggambark-= perbedaan di antara faktor-faktor yang ada. Seperti pada contoh di atas "'" faktor 1 dengan faktor 2 ternyata masih mempunyai kesarnaan-kesamaar: atau sebenarnya masih sulit sulit dikatakan apakah isi (variabel) pad falri.Ui '" 1 benar-benar layak masuk faktor 1, ataukah mungkin dapat masuk fakb_ 2. Hal tersebut akan mengganggu analisis, karena justru sebuah fakt-l'g harus berbeda secara nyata dengan faktor yang lain. Untuk itu, jika i:;t _ faktor maih diragukan, dapat dilakukan proses rotasi untuk memperjelas apakah faktor yang terbentuk sudah secara signifikan berbeda deng_ faktor lain.

4. Setelah faktor benar-benar sudah terbentuk, maka proses dilanjutkan dengan menamakan faktor yang ada, seperti contoh di atas. Kemudian beberapa langkah akhir juga perlu dilakukan, yaitu validasi hasil faktor.


Analisis Faktor (1)
Menilai Variabel yang Layak

Contoh studi Kasus 1 :

Sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Kota Baturaja ingin mengetahui fakto:r¬faktor apa saja yang mendorong pelajar Sekolah Menengah Umum untuk melanjutkan kuliah di sebuah Perguruan Tinggi. Setelah dilakukan riset selama beberapa saat, ditemukan sejumlah variabel yang mempengaruhi motivasi calon mahasiswa di Baturaja untuk kulifu'1 di Perguruan Tinggi :

Faktor - faktor yang mempengaruhi :
1. Gedung milik sendiri
2. Lokasi strategis
3. fasilitas laboratorium lengkap
4. Dosen pengajar berkualitas dan professional 5. Kurikulum berbasis kompetensi
6. Sistem perkuliahan tleksibel
7. Biaya terjangkau
8. Kondisi belajar yang kondusif
9. Kegiatan ekstrakurikuler banyak
10. Image kampus cukup bergengsi
11. Kecepatan pelayanan Bagian Pengajaran 12. Beasiswa bagi yang berprestasi
13. Penyaluran ke dunia kerja


Dari ketiga belas variabel tersebut, tentu saja dapat diperhatikan semuanya
oleh pihak manajemen Perguruan Tinggi dan melakukan berbagaistrategi dengan memperhatikan semua masukan variabel yang ada. Tetapi pihak Perguruan Tinggi dapat menduga bahwa dari ketiga belas variabel tersebut ada beberapa yang dapat dikata-kan 'mirip' satu sarna lain. Untuk itu, pihak
Perguruan Tinggi kemudian melakukan analisis faktor, untuk kemungkinan dapt mereduksi (mengurangi) 13 variabel di atas menjadi hanya beberapa faktor. Setelah dilakukan analisis, berikut distribusi variabel di atas :

i Faktor 1 l?aktor 2 Faktor 3
Dosen pengajar Laboratorium lengkap Sistem perkuliahan fleksibel
berkualitas dan I dan full AC Biaya Terjangkau
profesional I Gedung milik sendiri Image kampus cukup
Kecepatan . Lokasi strategis bergengsi
pelayanan Bagian Kondisi belajar yang Kurikulum berbasis
Pengajaran kondusif kompetensi I
Penyaluran ke dunia kerja
Beasiswa bagi yang
berprestasi
Kegiatan ekstrakurikuler
banyak

Melihat hasil di atas, pihak Perguruan Tinggi dapat lebih berkonsentrasi pada tiga faktor di atas, karena temyata dari 13 variabel terdahulu dapat direpresentasikan ke dalam 3 faktor, di mana tiap faktor berisi faktor-faktor
yang memang mengandung kemiripan dari variabel-variabel komponennya.
Pihak Perguruan Tinggi kemudian dapat memberi nama pada tiga faktor di atas, seperti faktor 1 dinamakan Pelayanan SDM (Sumber Daya Manusia), faktor 2 dinamakan Fasilitas Fisik, dan faktor 3 dinamakan Fasilitas Non Fisik. Memang terkadang tidak ada nama yang tepat untuk menggabungkan
sejumlah variabel, walaupun mirip. Namun peling tidak pihak Perguruan Tinggi dapat berkonsentrai pada 3 faktor di atas, seperti meningkatkan falilitas fisik, atau fasilitas non fisik, bahkan mungkin berkonsentrasi pada perekrutan SDM, dalam hal ini karyawan dan Dosen Pengajar.

Faktor Analisis untuk Dua Faktor

1. Menamai Variabel

Langkah :
.. Buka software SPSS
.. Buka file Faktor 2
.. Dari menu utama SPSS, buka. Menu Analyze, lalu submenu Data
Reduction, kemudian pilihan factor.
.. Tampak di layar :




Pengisian :
. Variables atau variabel apa saja yang akan diproses. Oleh karena akan
diuji semua variabel, masukkan semua variabel. Untuk itu, masuk..."I{an variabel Lab, gedung, lokasi dan kondisi ke kotak Variables di sebelah kanan.

NB : Langkah praktis untuk memilih semua variabel, pilih variabel teratas, tekan tombol Shift, lalu sambil tetap menekan tombol Shift, pilih variabel terbawah. Otomatis semua variables tersorot dan tinggal klik tanda untuk memasukkan semua variabel tersebut.
Buka icon Descriptives, hingga tampak pada layar :




Pengisian :
• Untuk Correlation Matrix, pilih (aktifkan) KMO and Barlett's test of sphericity dan Anti image. Abaikan pilihan yang lain.
• Untuk statistic, biarkan pilihan pada default Initial solution.
• Tekan continue untuk kembali ke kotak dialog utama.
• Abaikan bagian yang lain dari kotak dialog faktor, Kemudian tekan OK untuk proses pengujian variabel.

Output:

Factor Analysis

KMO and Bartlett's Test
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling
Adequacy.

Bartlett's Test of Approx. Chi-Square
Sphericity df
Sig.
.551

30.297
6
.000




Anti-image Matrices
Laboratorium
Full AC Gedung
Kuliah milik
sendiri Lokasi
Kampus
Strategis Kondisi
Kampus Mendukung
Anti-image Covarian Laboratorium full AC
Gedung Kuliah milik
sendiri .
Lokasi kampus stratei Kondisi Kampus mendukung

621

149

-322
-213


149

743

237
246 -322

-237

601
009 -213

-264

009
739
Anti-image Correiatir Laboratorium full AC
Gedug Kuliah milik
sendiri
Lokasi kampus strategis
Kondisi Kampus
mendukung
516a
220

-527
-314 220
499a

-354
-356 -527
-354

568a
014 -314
-356

014
628a

a. Measures of Sampling Adequacy(MSA)

Analisis .

• Pada tabel pertama, KMO and Barlett's test, terlihat angka K-M-O Measure of Sampling Adequacy (MSA) adalah 0,551. Oleh karena
angka MSA di atas 0,5, maka kumpulan variabel tersebut dapat diproses lebih lanjut. Selanjutnya hap variabel dianalisis untuk mengetahui mana yang dapat diproses lebih lanjut dan mana yang hams dikeluarkan. Kesimpulan yang sarna dapat dilihat pula pada angka KMO and Barlett's test (yang ditampakkan dengan angka Chi¬Square) sebesar 30,297 dengan signifikansi 0,000.
• Pada tabel kedua (Anti Image matrices), khususnya pada bagian bawah (Anti Image Correlation)_ terlihat sejumlah angka yang membentuk diagonal, yang bertanda 'a', yang menandakan besaran
MSA sebuah variabel. Seperti variabel lab yang mempunyai MSA 0,516, kemudian variabel gedung dengan MSA sebesar 0,499 dan seterusnya.

Pedoman :
• Apaka.c'1 ada angka MSA yang di bawah 0,5 ? ternyata ada satu
variabel yang mempunyai MSA di bawah 0,5 yaitu gedung (0,499).
• Variabel tersebut yang paling kecil, untuk dikeluarkan dari pemilihan
variabel. Oleh karena MSA dari variabel gedung paling kecil, maka
variabel tersebut dikeluarkan dari pemilihan variabel.
• Ulang kembali langkah pemilihan variabel, namun sekarang variabel sudah berkurang satu. Perhatikan untuk selalu membuang satu variabel yang mempunyai MSA paling kecil jika ditemukan adanya MSA yang di bawah 0,5 yang dalam hal ini adalah variabel gedung.


Langkah pengulangan pemilihan variabel :
a. Buka file faktor 2 (atau jika sudah, langsung proses di bawah ini).
b. Dari menu utama SPSS, buka menu Analyze, lalu submenu Data
Reduction, kemudian pilihan Factor.
c. Tekan tombol Reset untuk menghapus semua variabel masukan
terdahulu, sehingga kotak dialog kembali berisi pilihan default.
Tampak di layar :





Pengisian :
• Variables atau variabel apa saja yang akan diproses. Oleh karena akan diuji semua variable kecuali gedung, maka masukkan semua variabel yang lain. Untuk itu, masukkan variabel Lab, lokasi dan, kondisi ke kotak Variables di sebelah kanan.

.NB : Langkah praktis untuk memilih semua variabel, pilih variabel teratas, tekan tombol Shift, lalu sambil tetap menekan tombol Shift, pilih variabel terbawah. Otomatis semua variables tersorot dan tinggal klik tanda  untuk memasukkan semua variabel tersebut.
• Buka icon Descriptives. Pengisian sarna dengan terdahulu, untuk Correltion Matrix, pilih (aktifkan) KMO and Barlett's test of sphericity dan Anti Image. Abaikan pilihan yang lain.
Untuk Statistics, biarkan pilihan pada default Initial Solution.
• Tekan continue untuk kembali ke kotak dialog utarna.
• Abaikan bagian yang lain dari kotak dialog faktor, Kemudian tekan OK untuk proses pengujian variabel.








Output:

Factor Analysis

KMO and Bartlett's Test
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling
Adequacy.

Bartlett's Test of Approx. Chi-Square
Sphericity df
Sig.

.620

19.506
3 3
.000



IAnti-image Matrices

Lokasi Kondisi
Laboratorium kampus Kampus
full AC strategis mendukung
Anti-image Covarianc, Laboratorium full AC .652 -.330 -.192
Lokasi kampus strategi -.330 .687 -.098
Kondisi Kampus -.192 -.098 .847
mendukung
Anti-image Correlatior Laboratorium full AC .587a -.493 -.259
Lokasi kampus strategi - .493 .603a -.128
Kondisi Kampus a
mendukung -.259 -.128 .735

a. Measures of Sampling Adequacy(MSA)

Pedoman :
. Apakah ada angka MSA yang di bawah 0,5 ? ternyata tidak ada variabel yang mempunyai MSA di bawah 0,5. Sehingga ketiga variabel dapat dilakukan analisis faktor.


Kesimpulan : Dari tiga belas variabel mula-mula yang dianalisis, dengan dua kali pengulangan analisis, terseleksi sepuluh variabel yang memenuhi syarat untuk analisis faktar, yaitu lab, lakasi, kondisi, sistem, image, biaya, penyaluran, kegiatan, dosen dan pelayanan.

Melanjutkan analisis dari keseluruhan variabel yang tela..h terseleksi.

Faktor Analisis untuk Faktor 3


Menamai Variabel

Langkah :
.. Buka software SPSS
. Buka file Faktor 3
. Dari menu utama SPSS, buka menu
Reduction, kemudian pilihan factor.
. Tampak di layar :

Analyze, lalu submenu Data


Pengisian :
.. Variables atau variabel apa saja yang akan diproses. Oleh karena akan diuji semua variabel, masukkan semua variabel. Untuk itu, masukkan variabellab, lokasi, kondisi, sistem, biaya, image, kurikulum, penyaluran, kegiatan, dosen dan pelayanan ke kotak Variables di sebelah kanan.
NB : Langkah praktis untuk memilih semua variabel, pilih variabel teratas, tekan tombol Shift, lalu sambil tetap menekan tombol Shift, pilih variabel terbawah. Otomatis semua variables tersorot dan tinggal klik tanda untuk memasukkarf semua variabel tersebut.
.Buka icon Descriptives, hingga tampak pada layar :



Pengisian :
. Untuk Correlation Matrix, pilih (aktifka..TJ.) KMO and Barlett's
sphericity dan Anti image. Abaikan pilihan yang lain.
. Untuk statistic, biarkan pilihan pada default Initial solution.
. Tekan continue untuk kembali ke kotak dialog utama.
. Kemudian klik Extraction, tampak di layar :



Pengisian :
. Untuk Method, pilih Pricipal Components. Hal ini berarti Metode analisis
untuk mencari faktor yang digunakan adalah Pricipal Components.
. Untuk Display, selain default Unrotated Factor Solution, aktifkan juga
pilihan Scree Plot. . Tekan continue untuk kembali ke kotak dialog utama. . Abaikan bagian yang lain dari kotak dialog faktor, Kemudian tekan OK
untuk proses pengujian variabel.


..
Output:

Factor Analysis

Communalities
Initial
extraction
Laboratorium lengkap full AC
ILokasi Kampus strategis Kondisi/suasana
kampus mendukung
Sistem perkuliahan
fleksibel
Biaya kuliah terjangkau
Image kampus cukup terkenal
Penyaluran ke Dunia
Kerja Kegiatan ekstrakurikuler banyak
Dosen berkualitas dan profesional
Kecepatan pelayanan , Bag.Akademik

1.000
1.000

1.000

1.000
1.000

1.000

1.000

1.000

1.000

1.000

.815
.301

.869

791
818

698

869

366

570

666


Extraction Method: Principal Component Analysis.


Total Variance Explained

componen initial eigenvalues xtraction sums of squared loading
Total % of variance comulative % total % of variance comulative %
1 2.708 27.079 27.097 2.708 27.079 27.079
2 2.401 24.005 51.085 2.401 24.005 51.085
3 1.665 16.547 67.631 1.655 16.547 67.631
4 976 9.758 77.390
5 828 8.278 85.668
6 634 6.337 92.005
7 366 3.656 95.660
8 250 2.504 98.165
9 184 1.835 100.000
10 000 000 100.000
Extraction Method: Principal Component Analysis.


Scree Plot



Component Number

Component Matrix

Component
Laboratorium lengkap full AC LokasiKampusstrategis Kondisi/suasana kampus mendukung. Sistem perkuliahan fleksibel Biaya kuliahterjangkau Image kampus cukup terkenal Penyaluran ke Dunia Kerja Kegiatanekstrakurikuler banyak Dosen berkualitas dan professional Kecepatan pelayanan Bag.Akademik .560

-012

781

353
387

246

781

379

436

712


563

-221

-496

805
817

362

-496

000

-030

-307
-429

-502

115

-131
041

712

115

472

616

-254


Extraction Method: Principal Component Analysis
a. 3 components extracted.

Analisis .

1. COMMUNITIES

Untuk variabel Labaratorium, angka adalah 0,815. Hal ini berarti sekitar 81,5% varians dari variabel Laboratoirum dapat dijelaskan oleh taktar yang nanti terbentuk (jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu component Matrix, ada 3 Component, yang bararti ada 3 faktor terbentuk).

Untuk variabel Lokasi kampus, angka adalah 0,301. Hal ini berarti sekitar 30,1% varians dari variabel lokasi dapat dijelask_n oleh taktor yang terbentuk. Demikian seterusnya untuk variabellainnya, dengan ketentuan bahwa semakin kecil communities sebuah variabel, berarti semakin lemah hubungannya dengan faktor yang terbentuk.

2. TOTAL VARIANCE EXPLAINED

Ada 10 variabel yang dimasukkan dalam analisis taktor. Dengan masing¬masing variabel mempunyai varians 1, maka total varians adalah 10 x 1 = 10. Sekarang, jika kesepuluh variabel tersebut 'diringkas' menjadi satu faktor, maka varians yang dapat dijelaskan oleh satu taktar tersebut adalah (lihat Component = 1) :

2708 / 10 x 100% = 27,08%

Jika 10 variabel diekstrak menjadi 2 taktor, maka :
. Varians taktor pertama adalah 27,08%.
OJ Varians faktor kedua adalah 2401 / 10 x 100% = 24,01%

Total kedua taktor akan dapat menjelaskan 27,08% + 24,01%, atau 51,09% dari variabilitas kesepuluh variabel asli tersebut.

Sedangkan eigenvalues menunjukkan kepentingan relatit masing-masing taktor dalam menghitung varians keenam variabel yang dianalisis. Perhatikan di sini bahwa :
., Jumlah angka eigenvalues untuk keenam variabel adalah sama dengan total varians kesepuluh variabel, atau 2,708 + 2,401 + ... + 0,000 = 10.
e Susunan eigenvalues selalu diurutkan dari yang terbesar sampai terkecil, dengan kriteria bahwa angka eigenvalues di bawah 1 tidak digunakan dalam menghitung jumlah taktar yang terbentuk.

Dari tabel di atas terlihat bahwa hanya tiga taktor yang terbentuk, karena dengan satu faktar, angka eigenvalues di atas 1, dengan dua taktor angka eigenvalues juga masih di atas 1, dengan tiga taktar angka eigenvalues masih di atas 1, namun untuk 4 taktor angka eigenvalues sudah di bawah 1.


3. SCREE PLOT

Jika tabel kedua menjelaskan dasar jumlah faktor yang didapat dengan perhitungan angka, maka Scree plot menampakkan dengan grafik. Terlihat bahwa dari satu ke dua faktor (garis dari sumbu Component Number = 1 ke 2). Kemudian dari angka 2 ke 3, arah garis menurun dengan cukup tajam. Kemudian dari angka 3 ke 4, garis masih menurun, namun dengan slope yang lebih kecil. Juga perhatikan faktor 4 sudah di bawan angka 1 dari sumbu Y (eigenvalues). Hal ini menunjukkan bahwa tiga faktor adalah paling bagus untuk 'meringkas' kesepulub variabel tersebut.

4. COMPONENT MATRIX

Setelah diketahui bahwa tiga faktor adalah jumlah yang paling optimal, maka tabel ini menunjukkan distribusi kesepuluh variabel tersebut pada tiga faktor yang ada. Sedangkan angka yang ada pada tabel tersebut adalah factor loadings, atau besar korelasi antara variabel dengan faktor 1, faktor 2 atau faktor 3.

Seperti pada variabel Laboratorium, korelasi antara variabel Laboratorium dengan faktor 2 adalah 0,563 (CUhllp kuat), sedang korelasi variabel Laboratorium dengan faktor 1 adalah 0,560 (melemah dibanding dengan faktor 2). Sedangkan dengan faktor 3 adalah - 0,429 (Lemah). Dengan demikian dapat dikatakan variabel Laboratorium dapat dimasukkan
sebagai komponen faktor 2.

Pada variabel pelayanan, korelasi antara va..-iabel pelayanan dengan faktor 1 adalah - 0,307 (lema..h), sedang korelasi variabel pelayanan dengan faktor 1 adalah 0,712 (cukup kuat). Sedangkan dengan faktor 3 adalah - 0,254 (lemah). Dengan demikian dapat dikatakan variabel pelayanan dapat dimasuk.1{an sebagai komponen faktor 1.

Hubungan antara faktor loading dan Communalities

Communalities adalah jumlah dari kuadrat masing-masing factor loading sebuah variabel.

Sebagai contoh untuk variabel Laboratorium ;
Communalities = (0,560)2 + (0,563)2 + (- 0,429f= 0,815

(sarna dengan tabel Communities di atas). Demikian seterusnya untuk variabel yang lain.

Perhatikan bahwa dari urutan besar communalities, terlihat variabel Lokasi paling kecil angka communalities-nya, yang berdampak pada tidak adanya perbedaan yang nyata antara kedua faktor loadingnya.

Oleh karena masih ada variabel (lokasi) yang belum jelas akan dimasukkan dalam faktor 1, 2, atau 3 maka perlu dilakukan proses rotasi (rotation), agar semakin jelas perbedaan sebuah variabel akan dimasukkan pada faktor 1, 2 atau 3.

NB : angka pembatas (cut point) agar sebuah variabel dapat secara nyata termasuk sebuah faktor, untuk sekitar 40 data seperti yang digunakan pada kasus ini, adalah 0,55. Terlihat bahwa untuk vfu-iabellokasi, ketiga faktor loadings (-0,012, - 0,221 dall - 0,501) masih di bawah 0,55 sehingga variabel tersebut tidak dapat secara nyata dimasukkan dalam salah satu faktor.

Studi Kasus 2 :

Diberikan data pengamatan terhadap Marketing atau pemasaran produk Rokok dengan rincian variabel adalah sebagai berikut :

1. Produk, Branding dan Packaging
2. Penetapan Harga
3. Saluran Distribusi
4. Pengiklanan
5. Direct Marketing
6. Promosi penjualan
7. Publisitas dan Public Relation
8. Pengembangan produk


Penyelesaian :

1. Menamai Variabel Langkah :

• Buka softyvare SPSS
• Buka file Faktor
• Dari menu utama SPSS, buka menu Analyze, lalu submenu Data Reduction, kemudian pilihan factor.
• Tampak di layar :



Pengisian :
• Variables atau variabel apa saja yang akan diproses. Oleh karena akan diuji semua variabel, masukkan semua variabel. Untuk itu, masukkan semua variabel ke kotak Variables di sebelah kanan.

NB : Langkah praktis untuk memilih semua variabel, pilih variabel teratas, tekan tombol Shift, lalu sambil tetap menekan tombol Shift, pilih variabel terbawah. Otomatis semua variables tersorot dan tinggal klik tanda -.untuk memasukkan seillua variabel tersebut.




• Buka icon Descriptives, hingga tampak pada layar:



• .Untuk menentukan analisa komponen utama, klik extraction, seperti tampak di layar berikut :



• Memilih metode rotasi seperti tampak pada layar :



• Menampilkan matriks skor, seperti layar berikut :



• Mengatur berkenaan dengan missing value, seperti berikut :


.Klik continue, kemudian OK, sehingga keluar output seperti berikut ini:

Factor Analysis

Rotated Component Matrix

Component
- 1 2 3
prod uk, branding, .819 .013 -.264
packaging
penetapan harga .417 .700 -.261
saluran distribusi .774 .194 .070
pengiklanan .459 .795 -.006
direct marketing -.113 .8441 -.032
promosi penjualan .919 .164 I -.071
publisitas dan public -.054 -.059 .870
relation
pengembangan produk -.096 -.089 .865

Extraction Method: Principal Component Analysis.
Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.
a. Rotation converged in 4 iterations.

Component Transformation Matrix

Component 1 2 3
1 .770 .550 -.322
2 .297 .138 .945
3 -.564 .824 .057

Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.


Component Plot in Rotated Space



Component Score Coefficient Matrix
Component
- 1 2 3
prod uk, branding,
371 -182 -093
packaging
penetapan harga 033 337 -078
saluran distribusi 343 -033 132
pengiklanan 057 407 097
direct marketing -234 556 031
promosi penjualan 406 -093 052
publisitas dan public 067 037 553
relation
pengembangan produk 053 027 544
Extraction Method: Principal Component AnalysIs
Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization

Component Score Covariance Matrix
Component 1 2 3
1 1,000 000 000
2 000 1,000 000
3 000 000 1,000

Extraction Method: Principal Component Analysis.
Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.


Output dan Analisa

Berdasarkan perhitungan SPSS, dapat dianalisa sebagai berikut :

Setelah diketahui bahwa tiga faktor adalah jumlah yang paling optimal, maka tabel ini menunjukkan distribusi kedelapan variabel tersebut pada tiga faktor yang ada. Sedangkan angka yang ada pada tabel tersebut adalah factor loadings, atau besar korelasi antara variabel dengan faktor 1, faktor 2 atau faktor 3.

Seperti pada variabel produk, korelasi antara variabel produk dengan faktor 2 adalah - 0,182 (lemah), sedang korelasi variabel produk dengan faktor 1 adalah 0,371 (sedikit kuat dibanding dengan faktor 2). Sedangkan dengan faktor 3 adalah - 0,093 (Lemah). Dengan demikian dapat dikatakan variabel produk dapat dimasukkan sebagai komponen faktor 1.

Pada variabel pengembangan produk, korelasi antara variabel pengembangan
produk dengan faktor 1 adalah 0,053 (cukup lemah), sedang korelasi variabel pengembangan produk dengan faktor 2 adalah 0,027 (lebih melemah daripada fak-tor 1). Sedangkan dengan faktor 3 adalah - 0,544 (cukup kuat). Dengan demikian dapat dikatakan variabel pengernbangan produk dapat dimasukkan sebagai komponen faktor 3. Begitu juga seterusnya dengan variable lainnya.




Literatur:
SPSS Versi 12.00 dalam “RISET PEMASARAN” SRI RAHAYU

Definisi/Pengertian Kebijakan Moneter Dan Kebijakan Fiskal, Instrumen Serta Penjelasannya

A. Arti Definisi / Pengertian Kebijakan Moneter (Monetary Policy)
Kebijakan Moneter adalah suatu usaha dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan.
Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar
2. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policu)
Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain :
1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.
3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.
4. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.
B. Arti Definisi / Pengertian Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy)
Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih mekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah.
Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum.
Kebijakan Anggaran / Politik Anggaran :
1. Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif
Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Umumnya sangat baik digunakan jika keaadaan ekonomi sedang resesif.
2. Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif
Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Baiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.
3. Anggaran Berimbang (Balanced Budget)
Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin.
2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah ( dimana, siapa ?), pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang (supaya tidak inflasi ?).

Sebenarnya bukan bank yang dipengaruhi sekali tetapi konsumen kreditlah yang dipengaruhi. Semakin tinggi BI rate, maka bank akan menaikkan tingkat suku bunga bank atas kredit yang diajukan konsumen.
Orang yang keuangannya pas-pasan atau pelit tidak akan mau ambil kredit saat suku bunga tinggi karena akan sangat mempengaruhi kondisi finansial atau psikis mereka. Dengan demikian hanya segelintir orang mampu saja yang bisa menikmati fasilitas kredit bank, karena yang tidak mampu tidak akan mau ambil kredit.
• bagi orang yang berpenghasilan 2 juta perbulan, kenaikan besar cicilan sebesar 100 ribu akan sangat memberatkan sekali dingndingkan dengan yang penghasilannya 10 juta sebulan.
•
Kontribusi Pemerintah
1. Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif
Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Umumnya sangat baik digunakan jika keaadaan ekonomi sedang resesif.( maksudnya seperti apa??/ pemerintah membuat anggaran palsu )
2. Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif
Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Baiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan. ( apakah anggaran surplus ini diterapkan oleh pemerintah saat ini?? )